Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Buddhisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar dari Buddhisme. Tampilkan semua postingan

Ada Kristen dukung Palestina, tapi gak ada Buddhis dukung Rohingya

Ketika terjadi kasus konflik Israel-Palestina yang terjadi setiap pertengahan tahun

Ada Kristen yang dukung Israel: https://senjatarohani.wordpress.com/category/israel/

Tapi ada juga Kristen yang dukung Palestina dan ngata-ngatain kalo di Palestina juga ada orang Kristen: http://worldpeace8281.blogspot.com/2014/07/palestina-propagandakan-dukungan-pada.html

Di sisi lain, ketika ada kasus Rohingya-Rakhine, yang Muslim sebut sebagai Palestina dari Asia Tenggara

Para Buddhis bela-belain Rakhine & Myanmar: http://medialogika.org/berita/penyangkalan-buddha-mengenai-kejadian-di-myanmar/

Tapi gak pernah ditemukan ada Buddhis yang mendukung Rohingya apalagi ngata-ngatain kalo ada orang Buddhis di kalangan Rohingya

Padahal, hal tersebut dapat menarik simpati dari kaum Buddhis juga seperti halnya propaganda Palestina terhadap orang Kristen atau propaganda orang Kristen agar dapat dipandang sebagai pembela Palestina

Selain itu, walau Tripitaka (kitab suci agama Buddha) tidak menceritakan tentang Burma, Myanmar, & Rakhine apalagi menyebut Burma, Myanmar, apalagi Rakhine sebagai bangsa pilihan (seperti halnya pernyataan selama ini bahwa Kristen pendukung Israel hanya bermodalkan doktrin Israel bangsa pilihan), juga orang Buddhis tetap mendukung
»»  Selengkapnya...

Tumimbal Lahir Tanpa Kepercayaan Adanya Roh

Dalam ajaran Buddha dikenal sebuah dogma bernama Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias tidak ada pribadi.

Meskipun meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat Buddhist juga meyakini tumimbal lahir (Punabbhava). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali bukanlah jiwatman (jiwa). Lalu, apa yang dilahirkan kembali tersebut ?

Menurut konsep Buddha, untuk bisa bertumimbal lahir tidak diperlukan adanya sesuatu yang disebut roh, melainkan hanya diperlukan adanya arus kesadaran. Arus kesadaran ini bukanlah roh. Seperti halnya proses ulat yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu. Untuk berubah menjadi makhluk baru, ada cangkang yang harus ditinggalkan oleh ulat. untuk itu ia berpuasa dalam kepompong. Ketika tiba waktunya, ia akan keluar dari cangkang ulatnya dan terbang menjadi kupu-kupu. Demikian pula tumimbal lahir, tidak ada roh yang meninggalkan tubuh lama dan masuk ke dalam tubuh baru. Tetapi tubuh batin yang lama berubah bentuk bentuk menjadi tubuh batin yang baru, dengan meninggalkan jasad yang sudah tidak berguna. Adanya makhluk baru yang bertumimbal lahir bukanlah makhluk asing yang kemudian dimasuki oleh arus kesadaran, melainkan makluk baru ini benar-benar evolusi dari tubuh-batin sebelumnya.

Seperti halnya kegiatan sehari-hari, setiap pagi manusia bangun tidur dapat mengingat kehidupan yang telah dijalani pada hari kemarin. saya tidak bisa serta merta pergi bekerja dan masuk kantor, bila tidak ada masa lalu. Dua tahun lalu, sebuah perusahaan telah menerima seseorang untuk sebagai pegawai. itu adalah masa lalu. sehingga hari ini, orang-orang di kantor itu tidak merasa asing dengan kehadiran dia dan dia tahu apa saja yang harus dilakukan di sana. Semua itu berlandaskan kepada masa lalu. Di masa depan, yaitu akhir bulan ini, ada harapan menerima gaji. Seperti itulah orang mengaitkan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang.

Ada banyak orang yang meragukan tentang kehidupan di masa lampau atau kelahiran kembali di masa yang akan datang. Seseorang tidak perlu terlibat di dalam keraguan tersebut karena lebih baik menempatkan pikiran ke dalam hal-hal pasti. Ketika teringat kehidupan di masa kecil di mana pernah terjatuh dari sepeda lalu menceritakannya kepada orang, maka tidak ada cara orang lain menguji kebenaran cerita tersebut. Apakah tanda luka di kaki saja cukup membuktian kebenaran bahwa memang benar-benar pernah jatuh dari sepeda ? Padahal, bisa saja sebuah karangan dan luka itu sebenarnya bukan luka karena jatuh dari sepeda.

Jangankan untuk membuktikan kebenaran kelahiran lampau, membuktikan kebenaran kehidupan di masa kecil saja itu sangat sulit, jika semuanya harus diuji sampai orang lain tidak memiliki celah untuk meragukan. Akan tetapi, bila memang benar-benar pernah jatuh dari sepeda dan benar-benar teringat betul, tidak ragu dan yakin itu bukan mimpi, maka tak peduli jika orang lain meragukan cerita itu. Karena keyakinan dengan apa yang teringat dan terpikir bahwa hal ini harus dibuktikan kepada orang lain dan tanpa harus bersikeras bahwa pernah hidup di masa lampau atau akan terlahir kembali di masa depan, tetapi lebih berfokus pada hidup saat ini. Kelak, apabila terfokus pada hidup saat ini, maka akan melihat bahwa setiap yang dijalani tidak pernah lepas dari hubungannya dengan masa lalu.

"Bagi mereka yang tidak percaya, tidak akan ada penjelasan yang dapat meyakinkan mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang percaya, tidak akan ada penjelasan yang diperlukan lagi."
»»  Selengkapnya...

Pengaruh Makanan Terhadap Nafsu

Dalam Empat Kesunyataan Mulia poin ke-2 mengatakan bahwa penderitaan disebabkan oleh nafsu dan ketiadaan makanan bisa membuat seseorang menderita. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan makan juga termasuk nafsu.

Jika ingin konsisten kepada definisi Sidharta, maka nafsu hendaknya tidak hanya dipersempit pada sesuatu yang berkaitan dengan keserakahan, keinginan, dll tetapi juga segala sesuatu yang bisa mendatangkan penderitaan termasuk kebutuhan akan makanan. Jika kebutuhan akan makanan ternyata termasuk nafsu, maka tidak mungkin Sidharta mencapai pencerahan padahal ia masih perlu makan selama 45 tahun lagi.

Namun kenyataannya, Buddha sendiri tidak pernah mengatakan bahwa makanan itu termasuk nafsu. Makanan itu untuk bertahan hidup memang adalah hal wajar. Akan tetapi jika makannya memilih-milih maka itulah yang dikatakan sebagai nafsu. Maka dari itu, para bhikkhu di zaman Buddha itu hanya boleh menerima makanan namun tidak boleh meminta dan apapun makanan tersebut tetaplah harus diterima.

Dalam Buddhisme, penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan dari sisi mental oleh keinginan yang tidak tercapai maupun tetap tercapai namun tidak puas maka kita akan menderita secara mental. Makanan bukanlah penderitaan karena makan itu untuk mempertahankan hidup. Jika tidak ada makanan, memang tubuh fisik menderita. Tetapi pikiran tidak akan menderita karena akan tetap sadar.

Kalau ada makanan, mereka akan tetap makan tanpa harus berpikir hal tersebut nafsu atau bukan daripada mati konyol karena takut dibilang nafsu. Kalau tidak ada makanan, mereka boleh mencarinya seperti memetik buah dari tumbuhan liar. Kalau memang sudah tidak ada makanan lagi maka pikiran akan tetap sadar. Sehingga dia tidak akan menderita karena tidak ada makanan, walau fisiknya sakit namun mentalnya tidak sakit karena ia sudah mampu memahami bahwa tubuh ini akan hancur dan tidak ada makanan lagi sehingga tetap melihat realitas.

Dari: MoodPecker
»»  Selengkapnya...

Diskriminasi Minoritas di Sri Lanka

Setiap tahunnya, selalu terjadi intimidasi dan radikalisasi di Sri Lanka dengan berbagai kerusuhan dan intimidasi serta pembunuhan. Tindak kekerasan itu sering dilakukan terhadap kaum minoritas seperti Hindu, Kristen dan Muslim serta dengan beraninya mengatasnamakan kaum Buddhist hanya karena kebetulan berada pada lingkungan umat Buddhist seperti pada beberapa berita berikut ini:
Bahkan ada diantara mereka yang mendatangkan orang-orang yang berpakaian bikkhu: http://persecutedchurch.blogspot.com/2009/11/update-on-attack-on-sri-lankan-church.html

Sangat disayangkan karena dalam ajaran Buddha justru berkata sebaliknya: http://filsafat.kompasiana.com/2010/02/06/toleransi-dalam-agama-buddha/
Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain. Jika kita berbuat sebaliknya, kita akan merugikan agama kita sendiri selain merugikan agama lain. Oleh karena itu, barangsiapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, semata-mata terdorong oleh rasa bakti kepada agamanya sendiri dengan pikiran ‘Bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri’, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan menghormati ajaran yang dianut orang lain. (Prasasti Raja Asoka)
Maka dari itu, pastilah ada maksud logis selain karena alasan keagamaan. Namun tenang saja, suatu saat akan terjadi kesadaran dari mereka sendiri. Seperti halnya sebuah pertentangan pada Abad Pertengahan antara Paus Leo X dengan seorang reformator bernama Martin Luther yang pada akhirnya Gereja Katolik menerima dengan lapang dada kaum Protestan yang melepaskan diri dari kekuasaan Gereja Vatikan. Demikian pula dengan kasus ini yang akan berakhir dengan tuntutan ajaran mereka yang welas asih.

Artikel Terkait:
»»  Selengkapnya...

Kidung Konghucu apakah ini ?

Perlu diingatkan bahwa agama Konghucu berbeda dengan agama Buddha. Hal ini jelas karena dari latar belakang kedua agama ini pun berbeda. Agama Buddha berasal dari India sementara agama Konghucu berasal dari Tiongkok. Namun dikarenakan masyarakat pada umumnya masih mengira kedua agama ini sama maka bahasan ini disatukan dengan topik mengenai agama Buddha seperti 3 artikel yang terdapat unsur agama Hindu yang disatukan pada bahasan yang lebih dibicarakan berikut ini:

Ditambah lagi jika dikategorikan sendiri maka kategori mengenai Konghucu tidak akan mungkin berkembang karena jarangnya topik mengenai agama Konghucu.

Dalam topik ini akan membahas mengenai sebuah kidung Konghucu yang dikatakan memposisikan Tuhan memiliki sifat seperti manusia. dan berikut adalah cuplikan dari berita tersebut: http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2010/02/21/3464/arwah-gus-dur-didoakan-konghucu-dengan-kidung-wei-de-dong-tian/
“Gus, sudah 53 hari sampeyan pulang, ke rumah Gusti yang Maha Sempurna, Maha Hangat, Maha Murah Senyum, Maha Welas Asih, dan maha bijaksana...

Selamat beristirahat Gus, temani Gusti yang Maha Bijak, agar beliau senang, setidaknya masih ada orang Indonesia yang sebaik sampeyan...

Namun Gus, sesekali bujuk Beliau agar mau menolong Indonesia, agar negara kita dapat maju dengan perkasa, elitnya sadar mana yang inti dan mana yang variasi, serius dan kompak bekerja demi negara, meninggalkan remeh-temeh tiada guna, fokus pada solusi dan kerja nyata.

Oya Gus, kalau Gusti mulai bosan, mangkel dan marah melihat ulah para elit kita, tolong sampeyan hibur dengan guyonan maha dahsyat, agar Gusti terpingkal-pingkal, luluh hati dan mau mengampuni dosa-dosa kita."
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin maksudnya seaneh itu ? Atau mungkin ada maksud yang lain lagi yang lebih rasional ? Benarkan itu kidung Konghucu yang asli ? Ataukah hanya dibuat-buat saja ?

Untuk itu, ada baiknya kita mengenal dahulu Ketuhanan dalam agama Konghucu itu sendiri. Pada hasil penelusuran dari Google, akhirnya diketemukanlah sebuah forum yang mendiskusikan mengenai hal tersebut: http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=74267

Pada mulanya di Tiongkok kira-kira sebelum tahun 500 SM ada agama Ru (agama Kaum Terpelajar) dan agama kaum petani (Nong Jiao), yaitu agama / kepercayaan rakyat menyembah dewa-dewa tertentu.

Setelah Nabi Kongzi (Khong Cu) lahir agama Ru (Agama Kaum Terpelajar) ini di ajarkan kepada rakyat agar rakyat Tiongkok memiliki sistem dan cara peribadatan yang benar. Nabi Kongzi juga mulai mengajarkan kepada rakyat agar percaya kepada Huang Tian, Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan mengatur jagad raya. Ajaran menyembah Tuhan YME ini sudah diajarkan oleh para raja suci purba (Raja Yao (2357 – 2255 SM), Raja Shun (2255 – 2205 SM)), tetapi belum diajarkan secara sistematis kepada rakyat.

Nabi Kongzi (Khong Hu Cu) menata struktur kelenteng dengan menambah altar Tian Gong ( Thi Kong / Tuhan ) untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai altar utama. Karena Sebelumnya di kelenteng tidak ada altar Tuhan atau Tian Gong. Kelenteng itu semula tempat pemujaan para leluhur yang berjasa kepada masyarakat, roh itu dihormati orang seluruh kota maka dibuatkan kelenteng (miao). Kemudian orang ke kelenteng menyembahyangi berbagai roh-roh yang dianggapnya dapat memperbaiki nasib mereka. Makna bersembahyang itu telah bergeser, dan Nabi Kongzi ingin meluruskan kembali.

Nabi Kongzi (Khong Hu Cu) mengajarkan bahwa bersembahyang di kelenteng itu untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati roh orang yang pernah berjasa besar. Roh-bercahaya atau Sinbing yang disembahyangi di kelenteng adalah roh manusia yang pada waktu hidupnya telah berjasa besar kepada negara dan bangsa. Perbuatan mulia yang pernah dilakukan pada saat masih hidup itu perlu dicontoh. Misalnya Sinbing Kuan Kong, pada saat hidupnya terkenal sebagai orang yang jujur, setia, pembela kebenaran, dan mempelajari buku Chun Qiu karya Nabi Kongzi.

Tulisan Tiongkok dari zaman purba. Huruf Tian (Tuhan), terdiri dari huruf yi (satu) dan da (besar), Artinya 1 yang besar/terbesar.

Maka dapat disimpulkan bahwa sejak jaman dahulu kala (purba)Tiongkok sudah mengakui adanya Tuhan Sebagai Yang Maha Esa, Yang Maha Besar. Dan sekaligus kita ketahui bahwa itulah sebabnya bahwa agama Konghucu dinyatakan sebagai agama resmi pada negara yang memiliki sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini serta tidak menyembah dewa-dewi seperti yang selama ini kita kenal.

Lalu, bagaimana dengan sifat-sifat Tuhan atau Tian dalam agama Konghucu tersebut ? Maka dari situs itu terdapat bagian lanjutan dari penjelasannya. Karena penjelasannya dicampur, maka sumber akan diletakkan disini:

Setiap hari kita tidak akan pernah lepas dari kekuasaan Tuhan. Leluhur bangsa Tiongkok sudah menyadari akan hal itu. Untuk perumpamaannya karena langit itu terbesar dan tanpa batas maka Tian dapat diibaratkan berada dilangit.

Didalam Agama Ru (Agama Khong Hu Cu) lebih dijelaskan lagi sebagai berikut:
Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa) /Tian
Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.
Pada kata-kata tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan adalah maksudnya Tuhan tidak boleh dibatasi oleh wujud-wujud fisik dan penjelasan-penjelasan yang bersifat mematerikan Tuhan.

Sehingga jelas bahwa Ketuhanan dalam agama Konghucu tidaklah bersifat keduniawian seperti itu. Justru sebaliknya, Ketuhanan dalam agama Konghucu bersifat impersonal yakni tidak mewakili sebuah tindakan, kejadian, keadaan, dari seseorang, tempat, atau subyek yang tidak ditetapkan.

Sehingga jelas bahwa puisi itu hanya gubahan seni oleh seorang seniman saja dan bukan kidung resmi Konghucu karena tidak pernah disebutkan nama Wei De Dong Tian dalam satupun Puisi Klasik di Tiongkok:

UPDATE 21 Oct

Setelah diselidiki rupanya Wei De Dong Tian memang nyata namun puisi tersebut merupakan plagiat dari yang sebenarnya. Untuk fakta lebih jelasnya dapat dilihat selengkapnya disini: http://dennytan90.blogspot.com/2012/06/makna-wei-de-dong-tian.html
»»  Selengkapnya...

Persembahan Sembahyang

Menyadarkan seorang non-Buddhist bahwa umat Buddha tidak menyembah berhala menuai suatu hambatan. Beberapa hambatan tersebut merupakan suatu pertanyaan yakni jikalau mereka bukan penyembah berhala, apa tujuan penyajian berbagai makanan manusia untuk dipersembahkan pada roh-roh ? Apa juga tujuan berdoa menggunakan hio dan di depan patung ?

Untuk itulah dalam artikel ini akan mempertegas mengenai topik-topik sejenis sebelumnya mengingat masih terdapat yang mencela dengan berbagai alasan seperti yang dikatakan diatas.

Matteo Ricci
Masih ingatkah dengan artikel mengenai Sejarah Perkembangan Katolik di Tiongkok ? Disitu disebutkan bahwa misionaris Tiongkok bernama Matteo Ricci melakukan asimilasi budaya agama Katolik dengan Tiongkok.

Disitu beliau menyatakan bahwa apa yang dianggap pemujaan leluhur dan persembahan kepada kaisar oleh orang-orang Tionghoa sesungguhnya adalah sekadar penghormatan belaka dan bukan penyembahan berhala. Sikap hormat ini didasarkan pada nilai-nilai khas dunia Timur yang diajarkan oleh Kong Hu Cu. Oleh karena itu, praktik tersebut pada dasarnya tidaklah bertentangan dengan iman Kristiani, sehingga orang-orang Tionghoa yang menjadi Katolik tidak perlu dilarang mempraktikkannya: http://id.wikipedia.org/wiki/Pertikaian_ritus

Walaupun pada akhirnya ditentang oleh ordo Katolik lainnya namun pada akhirnya mereka mengerti dan kemudian mendukung jalannya misi tersebut. Dari situ pihak yang menentang berhala sendiri mengakui bahwa hal tersebut bukanlah penyembahan berhala dan hanya sebagai penghormatan saja.

Lagipula pada dasarnya yang dimaksud dengan berhala selama ini adalah obyek berbentuk makhluk hidup atau benda yang didewakan, disembah, dipuja dan dibuat oleh tangan manusia: http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala

Sementara sembahyang cara dunia Timur itu sendiri sama sekali tidak mendewakan sosok tersebut dan tidak disejajarkan dengan Tuhan atau Yang Maha Kuasa yang selama ini dipahami oleh agama-agama monotheis. Bahkan mereka pun juga mengakui Ketuhanan yang ada pada agama-agama monotheis tersebut seperti yang pernah diulas pada 2 artikel ini:
Artikel Terkait: Aksi Pelecehan Fundamentalis Kristen Korsel terhadap Kaum Buddhist
»»  Selengkapnya...

Memerangi Invasi LGBT (1): Pandangan Agama Buddha

Pada tanggal 11 Juli 2012 yang lalu, telah terjadi pernikahan Lesbian di Wihara Taiwan. Pertanda missi hak LGBT telah menyerang negara Asia sekaligus agama yang berasal dari Asia yakni agama Buddha. Lalu bagaimana tanggapan ajaran Buddha terhadap kejadian tersebut ?

Umumnya agama Buddha memandang homoseksualitas merupakan halangan untuk mencapai kesucian batin pada kehidupan saat itu juga karena mereka yang homoseksual tidak dapat mengembangkan pandangan terang (vipassana) akibat kekotoran batinnya yang selalu "bergejolak" dari waktu ke waktu. Namun demikian, mereka masih dapat menanam benih kebajikan (kusala kamma) dengan mengembangkan sila dan berdana. Kelahiran sebagai homoseksual merupakan akibat dari perbuatan buruk di masa lampau, di antaranya mengkebiri orang lain, merendahkan pertapa yang menjalankan sila, melanggar sila karena nafsu seksual, dan mengajak orang lain untuk melakukan pelanggaran sila akibat nafsu seksual.

Vinaya melarang penahbisan seorang homoseksual (pandaka) dan mengharuskan pelepasan jubah bagi anggota Sangha yang terbukti homoseksual karena dapat mengganggu kehidupan suci komunitas Sangha. Selain itu, dalam Vinaya seorang bhikkhu yang memasukkan (maaf) alat kelaminnya ke dalam salah satu lubang tubuh makhluk apa pun (termasuk sesama pria atau seorang pandaka) akan dikeluarkan dari Sangha.

Cakkhavatti-sihanada Sutta (Digha Nikaya 26) menyebutkan praktek menyimpang (miccha-dhamma) menyebabkan generasi manusia yang dulunya memiliki usia rata-rata 500 tahun berkurang usianya menjadi 250 tahun pada generasi berikutnya. Menurut komentar, miccha-dhamma yang dimaksud adalah hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki dan antara perempuan dengan perempuan. Dengan demikian, homoseksualitas dianggap sebagai salah satu faktor yang menyebabkan penurunan moral manusia.

Pelanggaran sila ke-3 (melakukan perbuatan asusila) bagi umat awam dikatakan sebagai "kehendak yang dilakukan melalui tubuh dengan cara yang tidak bermoral untuk melakukan hubungan seksual dengan orang-orang yang tidak seharusnya disetubuhi". Bagi pria, orang-orang yang tidak seharusnya disetubuhi dijelaskan sebagai 20 jenis wanita yang tidak boleh disetubuhi (diantaranya wanita yang masih dalam perlindungan orang tua atau kerabatnya, wanita yang merupakan kerabat dekat yang dilarang dalam adat masyarakat, wanita yang menjalani hidup selibat/bhikkhuni, wanita yang sudah terikat janji pernikahan atau pertunangan dengan pria lain walaupun bersifat sementara, dst). Namun Buddhaghosa dan beberapa komentator teks Buddhis lainnya menambahkan pria ke dalam kategori "orang yang tidak seharusnya disetubuhi" ini.

Sedangkan untuk hubungan sesama wanita, kitab-kitab Buddhis India tidak banyak membicarakannya selain larangan bagi bhikkhuni untuk melakukan hubungan sesama jenis. Hal ini disebabkan karena hubungan heteroseksual (lawan jenis) lebih populer menjadi pusat perhatian pada masa Sang Buddha dan sangat sedikit kasus homoseksual yang dijumpai pada masa itu (walaupun bukan berarti tidak ada).

Sesungguhnya, apa pun orientasi seksualnya, rasa kecintaan yang ditimbulkan dari nafsu untuk memuaskan kenikmatan seksual tetaplah merupakan rintangan bagi perkembangan batin/spiritual. Seperti yang disebutkan dalam Dhammapada XVII:213-215 berikut:
"Dari kenikmatan lahirlah kesedihan, dari kenikmatan lahir rasa takut; barang siapa yang bebas dari kenikmatan akan tidak merasakan kesedihan maupun ketakutan."
"Dari cinta lahirlah kesedihan, dari cinta lahirlah rasa takut, seseorang yang bebas dari rasa cinta tidak mengenal kesedihan maupun ketakutan."
"Dari nafsu timbul kesedihan, dari nafsu timbul rasa takut, barang siapa bebas dari nafsu maka ia tidak akan merasakan rasa padih maupun rasa takut."
Lalu, bagaimana bisa pernikahan tersebut dapat dengan mudahnya dilakukan oleh umat Buddha itu sendiri dan dilangsungkan pada tempat ibadah agama Buddha tersebut ? Beberapa penjelasan pada artikel berikut ini telah menjawabnya.

Artikel Terkait:
»»  Selengkapnya...

Membunuh Kuman

Dalam agama Buddha, terdapat larangan dalam melakukan pembunuhan termasuk diantaranya adalah membunuh hewan. Akan tetapi seperti yang kita ketahui bahwa setiap hari seorang manusia mandi untuk membunuh kuman di seluruh tubuh. Begitupun saat mencuci muka, mencuci kaki, mencuci bahan makanan, memasak masakan, serta perjuang sembuh dari penyakit dengan melawan kuman-kuman penyakit yang mengerikan.

Hal ini telah dijawab dengan 3 landasan pada ajaran Buddha.

Yang pertama adalah semua makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak perlu dipersoalkan seperti yang dikatakan oleh biksu Thailand yang terkenal.
http://demo.thairath.co.th/media/content/2011/05/10/170367/o3/420.jpg

Yang kedua adalah sesuatu dapat dikatakan sebagai pembunuhan jika memenuhi 5 syarat yakni:
- ada makhluk hidup
- tau bahwa makhluk itu hidup
- ada niat untuk memusnahkan makhluk itu
- ada usaha untuk mewujudkannya
- makhluk itu mati sebagai akibat dari tindakan kita
Jika syaratnya kurang 1, maka itu tidak bisa dikatakan sebagai pembunuhan.

Yang ketiga adalah syarat dari makhluk hidup khususnya manusia harus terdiri dari 2 bagian utama yakni faktor Jasmani dan faktor Batin. Sementara kuman sendiri hanya memiliki faktor Rupa (tubuh jasmani) namun tidak memiliki faktor Batin.

Apakah itu faktor Batin ? Faktor batin terdiri dari:
- Vedana (perasaan)
- Sannya (pencerapan)
- Sankhara (bentuk pikiran)
- Vinnyana (kesadaran indra)

Dan jelas jika kuman dalam ilmu pengetahuan tidak memiliki faktor batin tersebut.

Untuk selengkapnya silakan ke: http://bhagavant.com/home.php?link=dhamma_sari&n_id=54
atau Anattalakkhaṇa Sutta atau Karakteristik Bukan-diri

Maka dari itu agar terbebas dari kuman selain dengan mandi, mencuci tangan dan kaki, mencuci bahan makanan, memasak makanan, serta melakukan pengobatan; hiduplah yang bersih dan jangan jorok agar tidak memberi kesempatan kuman untuk berkembang dan terbebas dari penyakit.
»»  Selengkapnya...

Persamaan antara Katolik dan Buddha

Terdapat beberapa orang yang memiliki kesamaan satu sama lain seperti halnya kedua presiden Amerika Serikat yakni Abraham Lincoln dengan John F. Kennedy. Demikian pula dengan kedua ditaktor dunia yakni Adolf Hitler dan Joseph Stalin. Namun bagaimana dengan kedua golongan keagamaan memiliki kesamaan dan persamaan tersebut tidak dimiliki oleh agama manapun selain dua agama tersebut. Itulah yang saat ini dialami oleh agama Katolik dan agama Buddha. Berikut adalah daftar kesamaannya:

1. Hanya keduanya yang ada diantara dua agama bangsa di lingkupnya.

Katolik: Yahudi (Israel) & Islam (Arab)
Buddha: Hindu (India) & Konghucu (China)

2. Hanya keduanya yang terdapat ajaran dari hasil menggenapi/menyempurnakan/merubah ajaran agama yang sebelumnya ada.

Katolik: menggenapkan agama Yahudi
Buddha: merubah sistem ajaran Hindu

3. Hanya pendiri agama keduanya yang sama-sama dihujat mengenai penggambaran rambutnya.

Yesus: 1 Korintus 11:14
Buddha: Menjawab Masalah Rambut

4. Hanya keduanya yang memiliki pemimpin tertinggi pada agamanya.

Katolik: Bapa Paus
Buddha: Dalai Lama

5. Hanya keduanya yang memiliki negara pusat keagamaan dan negara tersebut melewati berbagai masa, wilayahnya kecil, dan bergabung dengan negara besar didekatnya.

Katolik: Vatikan (Italia)
Buddha: Tibet (China)

6. Hanya keduanya yang merupakan agama imigran, yakni punah di tempat aslinya dan pindah ke tempat lain.

Katolik: Israel → Roma
Buddha: India → China

7. Hanya keduanya yang mengharuskan para pemuka agamanya untuk tidak menikah dan hidup membiara serta sama-sama dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Katolik: Pastor & Suster
Buddha: Biksu & Biksuni

8. Keduanya mengajarkan ajaran kasih.

Katolik: Cinta Kasih
Buddha: Welas Kasih

9. Keduanya awalnya tidak menyatakan sebagai agama namun hanya sebuah ajaran rohani saja (sebutan agama yang selama ini ada hanyalah sebagai sandangan saja)

Katolik: Yesus tak pernah menyatakan ajaranNya sebagai agama dan hanya sebagai kerohanian.
Buddha: George Grimm, “The Doctrine of the Buddha”

10. Hanya keduanya yang memiliki sapaan akhir dengan pesan tujuan positif bagi yang menerimanya.

Katolik: Tuhan Yesus Memberkati
Buddha: Semoga Semua Makhluk Berbahagia
»»  Selengkapnya...

Panggilan Masuk Buddha

Terdapat banyak fakta menarik mengenai alasan kebanyakan orang yang pindah ke agama Buddha. Salah satunya adalah masih ingatkah Anda dengan pemberitaan mengenai bayi dilahirkan cacat yang sempat menyeruak beberapa waktu yang lalu di negeri ini.

Konon banyak orang bertanya: kalau Tuhan itu adil, mengapa ada orang yang dilahirkan cacat atau penyakit bawaan yang sangat parah (ada bayi yang hanya hidup beberapa bulan saja). Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah cobaan dari Tuhan, namun sama sekali tidak "mengena". Karena belum mengerti soal Tuhan tapi langsung dicobai.

Maka dari itu kemudian banyak orang yang bertanya tersebut pindah ke agama Buddha karena pada ajaran Buddha mengenal hukum tumimbal lahir. Ini adalah salah satu contohnya: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/alasan-bhikkhu-uttamo-memilih-agama-buddha/

Akibatnya, persentasenya penganut agama Buddha di Indonesia antara tahun 2005 sampai 2010 bertambah dari 0,61% menjadi 0,72% atau dari 1,3 juta orang menjadi 1,7 juta orang (rujukan Wikipedia)

http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Indonesia#Census_Data_regarding_Religion

(lihat kolom Buddhist)
http://indonesia.faithfreedom.org/forum/resources/image/1012

Jadi pemberitaan bayi lahir cacat itu adalah panggilan setiap orang untuk menganut agama Buddha.

Lihat Pula: Alasan Unik Orang Masuk Kristen
»»  Selengkapnya...

Tanda Titik di Kepala Biksu

Pada artikel sebelumnya mengenai Video Menghina Tuhan, jika diteliti secara seksama terdengar celetukan teman si penyanyi ketika sesi penghinaan agama Buddha yang kira-kira seperti ini (mohon maaf jika perkataan kurang mengenakan) "Udah kepalanya botak, banyak titiknya dikepala, kayak kartu gaplek (kartu remi)". Atau mungkin jika sering melihat film Shaolin atau Dragon Ball, sering pula terlihat hal demikian. Untuk itu maka topik mengenai ini disendirikan pada artikel ini.

Menurut tulisan Bhiksu ShengYen dari Dharma Drum/FaGuShan, beliau mengatakan cara ini sebenarnya bukan berdasarkan ajaran dari sang Buddha. Maksud beliau adalah jangan sampai kita menganggap ini merupakan ciri dari Buddhisme.

Namun tanda itu memiliki makna tersendiri, karena tanda ini dilakukan dengan cara menggunakan dupa yang menyala lalu ditindik ke atas kepala sang bhiksu, ini merupakan sebuah cara yang identik dengan membakar jari. Dalam salah satu kitab suci mahayana tertulis bahwa salah satu bentuk persembahan kepada sang buddha adalah membakar jari. Walaupun cara ini tampak ekstrim, namun memang ada yang melakukannya sebagai tanda ketulusan atas aspirasi mencapai pencerahan. Kita harus melakukannya dengan motivasi yang benar. Sama seperti metode Dutanga (praktek keras) yang dilakukan Mahakasyapa. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Tidak semua orang boleh menjalaninya. Sang Buddha bisa aja menyetujui anda menjalaninya tapi belum tentu menyetujui kepada orang lain. Demikianlah ajaran Buddha, sangat bergantung pada sikap batin para siswanya saat mendidik mereka.

Seiring dengan perkembangan jaman, hal itu menjadi kebiasaan Buddhist Tiongkok dan timbul pula segala macam alasan untuk mengartikannya. Tapi ada Bhiksu yang saya hormati mengambil hal itu sebagai bentuk pengabdian.

Menurut sumber lain, tujuan dibuat tanda ini:
  • Melatih ketabahan jiwa
  • Berjanji sesuatu kepada sang Budha
  • Membersihkan karma-karma buruk di kehidupan sebelumnya
Menindik kepala dengan dupa oleh bhiksu di Cina, bukan sebuah kewajiban, sampai pada masa sekarang, sudah semakin berkurang bhiksu Cina melakukannya. Justru katanya asal mula praktek seperti itu adalah masa masa Buddhisme sedang merosot di Cina.

Titik itu awalnya dibuat oleh pemerintah di Tiongkok dinasti Yuan (Mongol) untuk memisahkan yang asli dan yang palsu mengingat banyak biksu palsu yang berkeliaran seperti halnya bhante yang tidak memiliki alis karena dulu banyak bhante palsu di Thailand. Ada pula yang bilang hal itu untuk mendiskirminasikan Bhiksu Mongol dan Bhiksu Han. Di India sendiri, hal itu tidak pernah dipraktekkan.
»»  Selengkapnya...

Apakah Buddhisme itu Atheis ?

Klaim yang ini tergolong jarang didengar tapi sangat populer di kalangan kaum terpelajar terutama di bidang debat lintas-agama. Kenyataan memang menunjukkan bahwa ajaran sang Buddha seakan-akan alpha akan konsep Tuhan, dan terus menekankan bahwa pencerahan adalah usaha dari manusia sendiri untuk membebaskan dirinya lewat praktek pengembangan pikiran dan moralitas. Dalam buku Buddhism for Dummies, ditulis bahwa orang-orang melihat bahwa kata Tuhan (karena kata ini yang paling umum dipakai) sama sekali absen dalam ajaran agama Buddha sehingga mereka dengan setengah bercanda menjulukinya sebagai agama yang bagus buat kaum atheis.

Pengertian atheis secara umum adalah tidak percaya Tuhan. Dalam agama wahyu/langit/samawi, Tuhan digambarkan "personal (bisa kita bayangkan seperti kita)". Jadi Tuhan digambarkan bisa menyayangi kita, bisa menghukum, bisa marah, bisa jadi tempat kita memohon, bisa mencobai kita, dll. Tuhan seperti ini yang tidak diyakini/dipercaya oleh umat Buddha.

Bagi umat Buddha, Tuhan bukan sesuatu yg bisa kita jangkau dengan pikiran/intelektual, tapi bisa kita rasakan kehadirannya.Tuhan bukan sosok yang bisa kita suruh, perlu kita puji untuk mengambil hatinya, dan bisa kita salahkan atas apa yg terjadi dengan kita.

Ada satu pengertian lagi tentang Tuhan. Tuhan bukan sosok yang personal. Tuhan tidak dapat dibayangkan, tapi hanya bisa dirasakan sifatnya. Maha Adil, Maha Pengasih, Maha Pengampun, dll adalah beberapa sifat Tuhan yang bisa kita rasakan. Sifat Tuhan ini dalam agama Buddha dipahami sebagai hukum alam yg berjalan dengan adil. Ada 4 penggolongan hukum alam yang dikenal umat Buddha. Salah satunya yang paling dikenal adalah Hukum Karma (kamma niyama). Jadi dalam agama Buddha semua yang kita dapat karena dari hasil perbuatan kita sendiri dan berjalan sesuai dengan hukum alam.

sebagai gantinya sebagai tujuan umat Buddhist, ada digambarkan dalam kalimat berikut:
Wahai para bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk.
Wahai para bhikkhu, seandainya saja tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk, maka tidak ada jalan keluar yang dapat dilihat dari apa yang dilahirkan, dijelmakan, diciptakan, dan dibentuk.

Tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk, maka dapat dilihat suatu jalan keluar dari apa yang dilahirkan, dijelmakan, diciptakan, dan dibentuk.

Yang dilahirkan, dijelmakan, dihasilkan
Yang diciptakan, dibentuk, yang tidak kekal
Yang bersatu dengan kelapukan dan kematian
Sarang bagi penyakit, dapat hancur
Yang muncul dari makanan dan tali nafsu- itu tidak sesuai untuk dijadikan kegembiraan

Jalan keluar dari itu, yang damai
Berada di luar penalaran, kekal,
Yang tidak dilahirkan, tidak dihasilkan
Keadaan tanpa duka yang bebas dari noda
Berhentinya segala keadaan yang menyengsarakan, berhentinya segala yang berkondisi-Sukacita
(Ittivuttakka 2:43)
Bait inilah pondasi konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha.

Di Indonesia, umat Buddha sering memakai istilah Sang Hyang Adi Buddha untuk pengganti kata Tuhan. Dan tidak semua umat Buddha memahami dan bisa menjelaskan Tuhan dalam agama Buddha.

Kata Sang Hyang Adi Buddha bukan hasil dikarang-karang, tapi memang diambil dari tradisi agama Buddha di Indonesia. Ini mungkin akan membingungkan bagi umat beragama lain dan sebagian umat Buddha, karena agama Buddha bisa berbeda beda bentuk luarnya. Tapi inti ajaran tetap sama. Agama Buddha seperti obat manjur, yang tidak dipatenkan. Jadi orang bisa kasih merek apa saja. Asal obatnya asli, mau merek apa saja, tetap saja sembuh.

Jika umat Buddha mengakui keberadaan Tuhan, mengapa mereka tidak lebih sering menyebutkannya?

Pokok Sentral ajaran agama Buddha adalah mengenai apa itu penderitaan, sebab-sebab penderitaan, dan bagaimana cara mengakhiri penderitaan. Konsep mengenai Tuhan, tidak memiliki signifikansi penting karena yang ditekankan adalah usaha manusia dalam mengakhiri penderitaan itu, bukan melalui upaya penyelamatan oleh kuasa supernatural atau mukjizat. Dalam hal ini Buddhisme juga bukanlah sekedar seperangkat sistem kepercayaan, doktrin, atau ritual, karena Buddhisme menuntut sikap skeptis terhadap ajaran apapun yang disodorkan, sekalipun itu berasal dari Buddha sendiri.

Sang Buddha sendiri berkata: "Jangan menerima segala hal yang saya ucapkan sebagai kebenaran hanya karena saya telah mengucapkannya. Tetapi, selidiki dan buktikanlah itu seperti kamu mengetes apakah sebuah bongkahan emas itu murni atau tidak. Jika, setelah menyelidiki ajaran-ajaranku, kamu menemukan bahwa mereka benar, praktekkan mereka. Tetapi jangan melakukannya hanya karena kamu ingin menghormati saya".
»»  Selengkapnya...

Pelaku Dibalik Video Menghina Tuhan

Terdapat sebuah video menghina Tuhan yang diupload oleh .
Dalam video tersebut terdapat penghinaan terhadap agama Kristen, Buddha, dan Hindu.

Mari kita simak jawaban dari persoalan penghinaan melalui video tersebut.

Menjawab penghinaan terhadap agama Kristen.
Dalam video tersebut terdapat penghinaan terhadap agama Kristen dimana diceritakan bahwa Yesus (yang disebut Tuhan dalam video tersebut) tidak memakai baju, hanya memakai celana dalam, dan disalib

Hal ini dikarenakan sebelum disalib, pakaian Yesus dilepas oleh para prajurit Romawi yang menyalibkannya seperti yang tertulis pada ayat ini:

Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. (Matius 27:28)

sementara Yesus disalib adalah karena bentuk pemberian siksaan dari Pontius Pilatus seperti yang tertulis pada ayat ini:

Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. (Yohanes 19:16)

Menjawab penghinaan terhadap agama Buddha.
Dalam video tersebut juga terdapat penghinaan terhadap agama Buddha dimana diceritakan bahwa Sang Buddha (yang disebut Tuhan dalam video tersebut) kepalanya botak dan telinganya melar

Dalam hal ini terdapat sebuah 2 kesalahan disini

Kesalahan yang pertama adalah Sang Buddha tidak dianggap Tuhan oleh umatnya. bisa dicek disini: http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha

Kesalahan yang kedua adalah Sang Buddha tidak berkepala botak melainkan berambut gimbal.

Sementara Sang Buddha mempunyai telinga yang panjang karena berdasarkan bahasa simbol, ini menandakan kebijaksanaan, dan diihat dari budaya konon telinga panjang adalah akibat dari penggunaan anting-anting, dimana kita tahu bahwa sebelum menjadi Buddha, Siddhattha adalah seorang pangeran, dan ia menggunakan anting sebagai perhiasan. Karena beratnya (entah seberapa beratnya anting jaman dulu) maka telinganya (tepatnya lubang antingnya) memanjang. Salah satu suku di Indonesia juga menerapkan tradisi anting seperti ini, semakin panjang telinga katanya semakin cantik/ganteng dan juga menandakan kekayaan seseorang. (sumber: http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,8901.msg156146.html#msg156146)

Lihat Pula: Tanda Titik di Kepala Biksu

Menjawab penghinaan terhadap agama Hindu.
Dalam video tersebut juga terdapat penghinaan terhadap agama Hindu dimana diceritakan bahwa Tuhan dianggap sapi.

Kesalahan besar ada pada bagian ini karena Hindu tidak menggambarkan Tuhan dalam wujud sapi.

Memang benar jika sapi adalah hewan yang disakralkan oleh umat Hindu. Namun terdapat perbedaan istilah antara "menghormati" dan "memuja". Ajaran agama Hindu memang memperlakukan sapi secara istimewa untuk menghormati sapi, tetapi bukan untuk memujanya. (sumber: http://duniasapi.com/id/edutainment/116-sapi-binatang-suci.html)

Anggapan Tuhan dalam agama Hindu bisa dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/God_in_Hinduism

Lalu, Siapakah pelaku dibalik pembuatan video ini ?
Kita tentunya tidak akan mengetahuinya secara pasti. Akan tetapi jika mendengarkan logat dari si penyanyi pada video tersebut terdengar seperti logat orang Sunda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa si penyanyi dalam video tersebut berasal dari Jawa Barat (meskipun orang Sunda sekarang tidak semuanya tinggal di Jawa Barat) Selain itu terdengar pula suara orang lebih dari 1 dalam video tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaku dalam video tersebut tidak hanya 1 orang saja.

Selain itu, ditemukan pula video dengan lagu yang sama hanya saja yang ditampilkan adalah seseorang yang sedang lip sing memakai lagu tersebut yang diupload oleh .
Namun orang dalam video tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pelaku yang menyanyikan video tersebut. Hal ini dikarenakan video tersebut bukan video asli dari lagu tersebut. Video asli dari lagu tersebut adalah yang saya tampilkan paling atas yang diupload pada tanggal 26 Maret 2011 dan sementara video ini diupload sesudah video asli tersebut ada tepatnya pada tanggal 25 Juni 2011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang pada video tersebut hanya menumpang lip sing saja. Lagipula pada video tersebut ia hanya bernyanyi sendiri padahal lagunya memiliki warna suara orang lebih dari 1.

Tetapi, ada sebuah temuan mengejutkan dari seorang netter di sebuah forum bernama Faithfreedom bernama Kenalilah Penciptamu. Perlu diketahui bahwa ia merupakan orang yang sama dengan orang yang pernah mengejek Dewi Kwan Im yang telah diulas beberapa waktu yang lalu.

Ia sendiri mengupload lagu yang sama pada situs mediafire. Ini dibuktikan dengan penyebutan lirik awalnya yang sama. Ia sendiri mengupload lagu tersebut di mediafire pada tanggal 17 April 2011.

Setelah dikonfirmasi, ia kemudian memberitahu siapa pelaku dibalik video tersebut. Berikut pengakuannya (satu kata terpaksa disensor karena menyebut suatu golongan): http://indonesia.faithfreedom.org/forum/jika-pns-atheist-bisa-dimeja-hijaukan-kenapa-ini-tidak-t48221/#p839007
Lagunya sama cuy. Lagu aslinya yg bikin ntuh temen2ku anak *** Jabar, aku sndri cuma bantu dikit2 di ide liriknya.
Dari pengakuannya tersebut, ciri-ciri pelaku yang ia berikan sangat sesuai dengan ciri-ciri suara pada video yang diupload di Youtube tersebut yakni orang Jawa Barat dan lebih dari 1.

Akan tetapi, siapapun itu pelakunya semoga Tuhan menunjukan jalan yang benar bagi si pelaku pembuat video tersebut.

Catatan: Video paling diatas tersebut memang sudah tak dapat lagi menampilkan video tersebut dikarenakan telah dihapus. Namun, seseorang bernama telah menguploadnya kembali sehingga Anda dapat melihat video tersebut pada tayangan video yang satu ini.
»»  Selengkapnya...

Mengenal Buddhisme Di Israel

Pusat Penelitian Buddhisme di Israel
The Buddhist Channel, sebuah website Buddhis berbahasa Inggris, akhir September 2006 lalu memberitakan sebuah kabar gembira tentang lahirnya sebuah pusat penelitian Budhisme di Israel.

Israel Center for the Study of Buddhism (ICSB) adalah sebuah institusi nir-laba yang bergerak dalam penelitian antar disiplin ilmu dan budaya dengan tujuan “membawa Timur Jauh ke Timur Tengah”. Misi utamanya adalah mengenalkan prinsip dan sejarah Buddhisme secara menyeluruh agar masyarakat Israel memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya Timur Jauh. Dari Maroko hingga Afganistan dan dari Turki hingga Yaman, ICSB adalah satu-satunya institusi di Timur Tengah yang mempelajari Buddhisme beserta latar belakang budayanya (meliputi wilayah India, Asia Tenggara, dan Tiongkok).

Komunikasi bahasa dan literatur adalah kunci terbaik untuk membuka hubungan mutualis antar budaya. Oleh sebab itu, proyek pertama ICSB adalah menerjemahkan Tripitaka (bahasa Pali, Sansekerta, Tionghoa, dan Tibet) ke dalam bahasa Hebrew (Yahudi). Kemudian selanjutnya adalah proyek penerjemahan literatur Yahudi (seperti Mishnah dan Talmud) ke dalam beberapa bahasa di atas agar masyarakat di Asia Jauh dapat pula memahami budaya Yahudi.

Selain itu, penelitian juga meliputi aspek pertukaran antar sejarah bangsa, kesenian, dan arkeologi, yang pada nantinya akan melibatkan para ilmuwan dan agamawan untuk saling berbagi pandangan, baik dari sudut pandang modern ataupun tradisional.

Misi mulia yang diemban oleh ICSB memang sangat berat dan tidak mudah, namun Shmuel Ben Or, pendiri dan pengelola ICSB, memiliki keyakinan yang teguh dalam mewujudkan cita-cita luhur ini dengan berpegang pada filosofi “perjalanan paling panjang pun selalu diawali dengan langkah yang paling pendek”.

Bagi mereka yang berminat mengetahui misi dan tujuan ICSB, dapat menjenguknya di www.israel-center.org.

Bhiksuni Mengajar Meditasi di Israel
Menurut berita yang dirilis oleh Jerusalem Post, disebutkan bahwa Dharma Friends of Israel, sebuah jaringan perorangan di Israel yang mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha dan meditasi, secara rutin mengundang guru agama Buddha ke negara tersebut. Bhiksuni Tenzin, asal London, adalah guru pertama yang datang pada akhir September tahun lalu untuk mengajar dan memimpin retret selama tiga minggu di berbagai tempat, salah satunya yang paling sering adalah di Kibbutz Tuval di bagian utara Israel. Kegiatan retret itu berfokus pada program meditasi yang menuntun langsung pada penghayatan kesadaran pikiran.

Tenzin dibesarkan di daerah pemukiman Yahudi di London. Perjalanannya menjadi bhiksuni dimulai ketika usia remaja. Ia mengatakan, semenjak masih kecil selalu menginginkan sesuatu yang lebih, untuk itu ia mencoba membaca Kitab Suci non Buddhis, namun tidak menemukan apa yang dicarinya.

Untuk memuaskan keinginan spiritualnya, ia pergi ke India pada tahun 1964 ketika berusia 20 tahun. Ia belajar dari Khamtrul Rinpoche ke-8, dan akhirnya menjadi bhiksuni tradisi Buddhisme Tibet. Tenzin tinggal di sana selama 6 tahun. Ia kemudian diinstruksikan untuk menjalani latihan yang lebih intensif. Akhirnya ia menemukan ketenangan dan kedamaian yang dicarinya selama ini di sebuah goa. Ia menetap selama 12 tahun, yang mana tiga tahun terakhir dijalaninya dengan pelatihan yang ketat.

Sekarang ia mengabdikan diri di sebuah institusi bhiksuni yang didirikannya pada tahun 1999. Institusi ini berfokus pada pengembangan spiritual kaum wanita dengan memberikan pengajaran tentang filsafat, ritual, Bahasa Inggris dan disiplin ilmu praktis lainnya.

Selama di Israel ia menghilangkan keraguan peserta retret yang beragama Yahudi dengan memberikan penjelasan, “Seseorang bisa menjadi umat Yahudi yang sempurna dan belajar meditasi serta menenangkan pikiran.”

Tenzin menekankan untuk berfokus pada kekuatan dan pentingnya meditasi. “Biasanya kita tidak sadar bahwa pikiran kita selalu bergerak,” demikian ujarnya. “Meditasi adalah proses dua langkah: pertama anda harus menenangkan pikiran, setelah itu amati pikiran kita itu.”

NB: Meditasi dan ajaran luhur Buddha selangkah demi selangkah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sebuah langkah mulia yang akan membawa setiap umat manusia menemukan jati diri hingga pada akhirnya mengantar pada pemurnian diri dan perdamaian dunia. Masihkah kita ragu akan ajaran yang demikian indah, bermanfaat, dan tanpa paksaan ini?

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=429078456010
»»  Selengkapnya...

Buddhisme melawan kasus penodaan agama

Terdapat 2 berita kriminal yang telah menodai agama Buddha:
Dan inilah pandangan Buddhisme terhadap 2 kasus penodaan agama tersebut.

Untuk mengetahui kebenarannya, kita harus membuktikannya sendiri.

APA BILA INI SALAH:

Manusia itu diliputi 3 akar kejahatan, lobha (keserakahan), moha (kebodohan), dan dosa (kebencian). Apakah penulis artikel ingin melecehkan agama lain ? Apakah penulis artikel ingin mendapat pandangan rakyat/cari perhatian dengan kebohongan ? Apakah penulis artikel menulis ini tanpa bukti yang nyata?

Entah dari mana yang menjadi asal dari kebohongan ini.

APA BILA INI BENAR:

Harus jujur bahwa sebenarnya kurang lebih seratus tahun setelah sang Buddha parinibbana/meninggalkan dunia, muncul bhikkhu gadungan yang menjadi bhikkhu hanya agar dapat mudah mendapatkan makanan, dll. dan akhirnya pada persamuan agung, para bhikkhu gadungan pun telah di bersihkan.

Bagaimana kita dapat menyamakan dengan 2500 tahun yang lalu?
setiap waktu berjalan, moral manusia semakin susah untuk menjadi lebih baik.
kriminalitas terjadi di seluruh penjuru dunia. moral semakin menurun.

jadi entah ini benar maupun salah, namanya manusia, tidak ada yang sempurna sampai menemukan penerangan sempurna.

Semua orang sama sebenarnya, yang membedakan hanyalah baik dan jahat.
ras, agama, umur, bangsa, semua tidak membedakan. yang penting kita harus tetap ikut pada jalan yang baik.

UPDATE 15 May

Disini perlu dijelaskan, bahwa Bikkhu, adalah orang yang menjalankan ajaran Buddha Gautama yang ditulis dalam peraturan ke-Bikkhu-an di kitab Tripitaka yang berjudul Vinaya Pitaka. Didalamnya terdapat 227 peraturan untuk Bikkhu dan tambahan 30an peraturan untuk Bikkhuni (Bikkhu wanita). Dan sudah ditetapkan oleh Buddha, bahwa siapa saja yang melanggar 1 atau lebih dari Vinaya, dia bukanlah Bikkhu lagi, melainkan orang awam, kecuali jika dia bersedia menerima hukuman untuk pelanggaran nya.

Jadi sudah jelas, dari luar anda melihat dia sebagai Bikkhu, tetapi begitu anda mengetahui bahwa dia melanggar Vinaya, anda sudah boleh menyimpulkan bahwa dia adalah umat awam. Sederhana saja kok.
»»  Selengkapnya...

Menghadapi Kritikan ala Buddhisme

Terdapat sebuah kritikan terhadap umat Buddha

“ Aku sangat ingin percaya bahwa setelah aku mati aku akan hidup lagi, bahwa pikiranku, perasaanku, dan ingatanku akan terus berlanjut. Tapi meskipun aku sangat ingin mempercayai itu, dan meskipun banyak cerita kuno dari seluruh dunia mengatakan ada kehidupan setelah mati, aku hanya bisa berkata bahwa semua itu tak lebih dari angan kosong belaka. ”

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Ateisme/Kutipan_pilihan/1

dan inilah jawaban Buddhisme terhadap kritikan tersebut

kepercayaan adalah kebebasan semua orang, termasuk astronomer Carl Sagan.

Jangan lah berbuat jahat,
Tambahkan kebajikan,
Sucikan hati dan pikiran,
Itu lah inti dari ajaran para Buddha.
»»  Selengkapnya...

MENJAWAB gugatan netter FFI

 Berikut gugatannya:
Wkwkwk…. Jadi masih ngga mau ngaku ya… Ya udah, ngga apa2 kok. Yang terpenting buatku FFI telah terbukti salah dan Islam telah terbukti benar. Sekedar nasihat nih untuk kalian para kafir, kalau kalian memang ingin belajar Islam secara serius, pergilah ke orang yg punya pengetahuan mumpuni ttg Islam; yaitu Ustadz dan para ulama agar kalian tdk tersesat, seperti kasus ini. Kan lucu sekali kalian ini, inginnya mengupas ttg hukum-hukum, ajaran-ajaran, dlsb ttg Islam namun sejarah tentang Islam dan Nabi Muhammad kalian pun tdk tahu?
Bukankah lucu kalau kalian ingin belajar membuat roti tapi malah minta ajar sama tukang sedot WC? Alih-alih jadi bikin roti, roti yg kalian buat malah akan seperti barang yg disedot ama tukang WC itu sehari-hari.

Akhir kata, sudahlah, jangan buang waktu kalian yg berharga di forum sampah seperti ini hanya untuk menghujat agama lain, dalam hal ini Islam. Islam itu agama satu-satunya yg diridhoi Allah, tdk ada sesuatupun yg salah dlm Islam. Jikapun ada kesalahan, kesalahan satu-satunya itu ada pada kita yg punya otak terbatas untuk memahaminya. Mending kita urus agama masing-masing, toh agama kalian itu juga tdk luput dari banyaknya kesalahan. Coba kalian introspeksi agama kalian sendiri, apakah benar Yesus itu orang baik, lebih-lebih disebut Tuhan? Pohon ara yg tdk salah apa-apapun dikutuk sama dia, orang yg minta tolong sama dia dikatain anjing, apa itu benar??? Apakah masuk akal ajaran ttg tampar pipi kiri serahkan pipi kanan itu? Kalau memang masuk akal, ayo, sini kalian semua para kristener datang ke rumahku, biar saya tampar pipi kalian satu-satu Kan lumayan kalian dapat pahala krn melaksanakan ajaran agama kalian. Trus apakah benar Buddha itu agama yg benar? Dewi kalian yg bernama Kwam-Im itu sebenarnya seorang pria bukan? Sangat memuakkan memang bahwa ada sebuah agama yang mengajarkan homoseksualitas kpd umatnya dan mengangkat seorang bencong untuk menjadi dewi mereka. Kalau saya nih disuruh menyembah bencong spt kwam-im, saya sih lebih mending menyembah Tata Dado saja, krn apa? Krn saya lebih suka yg hitam manis
Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/post732618.html#p732618

Lalu, darimanakah ia mendapatkan gugatan tersebut ?

Dari hasil penelusuran kemungkinan gugatan tersebut berasal dari tulisan ini
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kwan_Im#Sejarah_klasik

Dan berikut adalah jawaban dari gugatan tersebut.

Kepercayaan dari umat Buddha yang paling sering membedakannya dengan agama lain adalah Hukum Karma dan Tumimbal Lahir, Semua makhluk di dunia akan mengalami tumimbal lahir. Keadaan kelahiran kembali mereka akan bergantung dengan karma yang telah mereka hasilkan sendiri, apabila kita berbuat baik, maka kita akan mendapat karma baik. apabila kita berbuat jahat, maka kita akan mendapat karma buruk.

Semua saling berikatan antara perbuatan kita dengan karma.

Dewi Kwan-Im, lebih sering dikenal dengan Avalokitesvara Bodhisatva adalah Calon Buddha dengan cinta kasih yang luar biasa. Ia telah bertekad untuk tidak mencapai Nibbana (Tingkat kesucian tertinggi) sampai Ia dapat membebaskan semua makhluk dari neraka. Hal itu dapat dilakukan dengan pelimpahan jasa. Dengan adanya Tumimbal lahir, tentu keadaan kelahiran kita akan berbeda-beda. Bisa terlahir menjadi laki-laki, wanita, hewan, dan semua jenis makhluk yang berada di 31 Alam Kehidupan. Ilustrasi atau penggambaran Avalokitesvara Bodhisatva ini tentunya berbeda-beda, karena kemampuan kerohaniawan manusia pada jaman kehidupan sang Buddha itu berbeda dengan sekarang.

Yang mempengaruhi perbedaan penggambarannya itu menurut saya adalah waktu dan tradisi.
»»  Selengkapnya...

Menjawab Masalah Rambut

Mengapa seorang biksu harus dicukur habis rambutnya sampai gundul sementara Sang Buddha tetap berambut ?

pertanyaan ini telah dijawab secara gamblang oleh para penganut Buddha itu sendiri

Sang Buddha telah menjadi Buddha dan mencapai penerangan sempurna. Tentu beliau lebih tahu bagaimana cara agar kita bisa lebih mudah agar bisa mencapai penerangan sempurna seperti dirinya.

Biksu adalah orang yang berkomitmen untuk menjadi seperti Buddha (bukan penampilan, tetapi dalam hal mencapai kesempurnaan). Seiring perkembangan jaman, para biksu Buddha diharuskan untuk memplontos kepalanya karena rambut adalah simbol keduniawian karena lebih ke arah aturan dan simbol. Biksu diharuskan mencukur rambutnya karena menurut ajarannya hal itu adalah lebih baik dilakukan. Efek dan pengaruhnya tentu akan berbeda untuk setiap orang tergantung dari pemahaman masing-masing, tetapi jelas lebih baik.
»»  Selengkapnya...