Tapi gak pernah ditemukan ada Buddhis yang mendukung Rohingya apalagi ngata-ngatain kalo ada orang Buddhis di kalangan Rohingya
Padahal, hal tersebut dapat menarik simpati dari kaum Buddhis juga
seperti halnya propaganda Palestina terhadap orang Kristen atau
propaganda orang Kristen agar dapat dipandang sebagai pembela Palestina
Selain itu, walau Tripitaka (kitab suci agama Buddha) tidak
menceritakan tentang Burma, Myanmar, & Rakhine apalagi menyebut
Burma, Myanmar, apalagi Rakhine sebagai bangsa pilihan (seperti halnya
pernyataan selama ini bahwa Kristen pendukung Israel hanya bermodalkan
doktrin Israel bangsa pilihan), juga orang Buddhis tetap mendukung
Dalam ajaran Buddha dikenal sebuah dogma bernama Anicca Dukha Anatta. Anicca artinya tidak kekal. Dukha artinya susah
hati. Anatta artinya an atma alias an atman alias tidak ada jiwa alias
tidak ada pribadi.
Meskipun
meyakini doktrin Anicca Dukha Anatta namun umat Buddhist juga meyakini
tumimbal lahir (Punabbhava). Karena menganut doktrin Annata (tidak ada roh; tidak ada
pribadi) itu berarti yang dilahirkan kembali bukanlah jiwatman (jiwa). Lalu, apa yang dilahirkan kembali tersebut ?
Menurut konsep Buddha, untuk bisa bertumimbal lahir tidak diperlukan
adanya sesuatu yang disebut roh, melainkan hanya diperlukan adanya arus kesadaran. Arus kesadaran ini bukanlah roh. Seperti halnya proses ulat yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu. Untuk berubah menjadi makhluk baru, ada cangkang yang harus ditinggalkan
oleh ulat. untuk itu ia berpuasa dalam kepompong. Ketika tiba waktunya,
ia akan keluar dari cangkang ulatnya dan terbang menjadi kupu-kupu. Demikian pula tumimbal lahir, tidak ada roh yang meninggalkan tubuh
lama dan masuk ke dalam tubuh baru. Tetapi tubuh batin yang lama berubah
bentuk bentuk menjadi tubuh batin yang baru, dengan meninggalkan jasad
yang sudah tidak berguna. Adanya makhluk baru yang bertumimbal lahir
bukanlah makhluk asing yang kemudian dimasuki oleh arus kesadaran,
melainkan makluk baru ini benar-benar evolusi dari tubuh-batin
sebelumnya.
Seperti halnya kegiatan sehari-hari, setiap pagi manusia bangun tidur dapat mengingat kehidupan yang telah dijalani pada hari kemarin. saya tidak bisa
serta merta pergi bekerja dan masuk kantor, bila tidak ada masa lalu. Dua tahun lalu, sebuah perusahaan telah menerima seseorang untuk sebagai
pegawai. itu adalah masa lalu. sehingga hari ini, orang-orang di kantor
itu tidak merasa asing dengan kehadiran dia dan dia tahu apa saja
yang harus dilakukan di sana. Semua itu berlandaskan kepada masa lalu. Di masa depan, yaitu akhir bulan ini, ada harapan menerima
gaji. Seperti itulah orang mengaitkan masa lalu, saat ini dan masa yang
akan datang.
Ada banyak orang yang meragukan tentang kehidupan di masa lampau atau
kelahiran kembali di masa yang akan datang. Seseorang tidak perlu terlibat di
dalam keraguan tersebut karena lebih baik menempatkan pikiran ke
dalam hal-hal pasti. Ketika teringat kehidupan di masa kecil di
mana pernah terjatuh dari sepeda lalu menceritakannya kepada orang,
maka tidak ada cara orang lain menguji kebenaran cerita tersebut. Apakah
tanda luka di kaki saja cukup membuktian kebenaran bahwa memang
benar-benar pernah jatuh dari sepeda ? Padahal, bisa saja sebuah karangan
dan luka itu sebenarnya bukan luka karena jatuh dari sepeda.
Jangankan
untuk membuktikan kebenaran kelahiran lampau, membuktikan kebenaran
kehidupan di masa kecil saja itu sangat sulit, jika semuanya harus diuji sampai orang lain tidak memiliki celah untuk meragukan. Akan
tetapi, bila memang benar-benar pernah jatuh dari sepeda dan benar-benar teringat
betul, tidak ragu dan yakin itu bukan mimpi, maka tak peduli jika orang
lain meragukan cerita itu. Karena keyakinan dengan apa yang teringat
dan terpikir bahwa hal ini harus dibuktikan kepada orang lain dan tanpa harus bersikeras bahwa pernah hidup di masa lampau atau akan
terlahir kembali di masa depan, tetapi lebih berfokus pada hidup saat
ini. Kelak, apabila terfokus pada hidup saat ini, maka akan melihat
bahwa setiap yang dijalani tidak pernah lepas dari hubungannya
dengan masa lalu.
"Bagi mereka yang tidak percaya, tidak akan ada penjelasan yang
dapat meyakinkan mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang percaya, tidak
akan ada penjelasan yang diperlukan lagi."
Dalam Empat Kesunyataan Mulia poin ke-2 mengatakan bahwa penderitaan
disebabkan oleh nafsu dan ketiadaan makanan bisa membuat seseorang
menderita. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan makan juga
termasuk nafsu.
Jika ingin konsisten kepada definisi Sidharta, maka nafsu hendaknya
tidak hanya dipersempit pada sesuatu yang berkaitan dengan keserakahan,
keinginan, dll tetapi juga segala sesuatu yang bisa mendatangkan
penderitaan termasuk kebutuhan akan makanan. Jika kebutuhan akan makanan ternyata termasuk nafsu, maka tidak
mungkin Sidharta mencapai pencerahan padahal ia masih perlu makan
selama 45 tahun lagi.
Namun kenyataannya, Buddha sendiri tidak pernah mengatakan bahwa makanan itu termasuk nafsu. Makanan itu untuk
bertahan hidup memang adalah hal wajar. Akan tetapi jika makannya memilih-milih maka itulah yang dikatakan sebagai nafsu. Maka dari itu, para bhikkhu di zaman Buddha itu
hanya boleh menerima makanan namun tidak boleh meminta dan apapun makanan tersebut tetaplah harus diterima.
Dalam Buddhisme, penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan dari sisi
mental oleh keinginan yang tidak
tercapai maupun tetap tercapai namun tidak puas maka kita akan menderita secara mental. Makanan bukanlah penderitaan karena makan itu untuk mempertahankan hidup. Jika tidak ada makanan,
memang tubuh fisik menderita. Tetapi pikiran tidak akan menderita karena
akan tetap sadar.
Kalau ada makanan, mereka akan tetap makan tanpa harus berpikir hal tersebut nafsu atau
bukan daripada mati konyol karena takut dibilang nafsu. Kalau tidak ada makanan, mereka boleh mencarinya seperti memetik buah dari
tumbuhan liar. Kalau memang sudah tidak ada makanan lagi maka pikiran akan tetap sadar. Sehingga dia tidak akan menderita karena tidak ada makanan,
walau fisiknya sakit namun mentalnya tidak sakit karena ia sudah
mampu memahami bahwa tubuh ini akan hancur dan tidak ada makanan lagi sehingga tetap melihat realitas.
Setiap tahunnya, selalu terjadi intimidasi dan radikalisasi di Sri Lanka dengan berbagai kerusuhan dan intimidasi serta pembunuhan. Tindak
kekerasan itu sering dilakukan terhadap kaum minoritas seperti Hindu,
Kristen dan Muslim serta dengan beraninya mengatasnamakan kaum Buddhist hanya karena kebetulan berada pada lingkungan umat Buddhist seperti pada beberapa berita berikut ini:
Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain. Jika kita berbuat sebaliknya, kita akan merugikan agama kita sendiri selain merugikan agama lain. Oleh karena itu, barangsiapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, semata-mata terdorong oleh rasa bakti kepada agamanya sendiri dengan pikiran ‘Bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri’, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan menghormati ajaran yang dianut orang lain. (Prasasti Raja Asoka)
Maka dari itu, pastilah ada maksud logis selain karena alasan keagamaan. Namun tenang saja, suatu saat akan terjadi kesadaran dari mereka sendiri. Seperti halnya sebuah pertentangan pada Abad Pertengahan antara
Paus Leo X dengan seorang reformator bernama Martin Luther yang pada akhirnya Gereja Katolik menerima dengan lapang dada kaum
Protestan yang melepaskan diri dari kekuasaan Gereja Vatikan. Demikian pula dengan kasus ini yang akan berakhir dengan tuntutan ajaran mereka yang welas asih.
Perlu diingatkan bahwa agama Konghucu berbeda dengan agama Buddha. Hal ini jelas karena dari latar belakang kedua agama ini pun berbeda. Agama Buddha berasal dari India sementara agama Konghucu berasal dari Tiongkok. Namun dikarenakan masyarakat pada umumnya masih mengira kedua agama ini
sama maka bahasan ini disatukan dengan topik mengenai agama Buddha seperti 3 artikel yang terdapat unsur agama Hindu yang disatukan pada bahasan yang lebih dibicarakan berikut ini:
“Gus,
sudah 53 hari sampeyan pulang, ke rumah Gusti yang Maha Sempurna, Maha
Hangat, Maha Murah Senyum, Maha Welas Asih, dan maha bijaksana...
Selamat
beristirahat Gus, temani Gusti yang Maha Bijak, agar beliau senang,
setidaknya masih ada orang Indonesia yang sebaik sampeyan...
Namun Gus, sesekali bujuk Beliau agar mau menolong Indonesia,
agar negara kita dapat maju dengan perkasa, elitnya sadar mana yang
inti dan mana yang variasi, serius dan kompak bekerja demi negara,
meninggalkan remeh-temeh tiada guna, fokus pada solusi dan kerja nyata.
Oya
Gus, kalau Gusti mulai bosan, mangkel dan marah melihat ulah para elit
kita, tolong sampeyan hibur dengan guyonan maha dahsyat, agar Gusti
terpingkal-pingkal, luluh hati dan mau mengampuni dosa-dosa kita."
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin maksudnya seaneh itu ? Atau mungkin ada maksud yang lain lagi yang lebih rasional ? Benarkan itu kidung Konghucu yang asli ? Ataukah hanya dibuat-buat saja ?
Untuk itu, ada baiknya kita mengenal dahulu Ketuhanan dalam agama Konghucu itu sendiri. Pada hasil penelusuran dari Google, akhirnya diketemukanlah sebuah forum yang mendiskusikan mengenai hal tersebut: http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=74267
Pada mulanya di Tiongkok kira-kira sebelum tahun 500 SM ada agama Ru
(agama Kaum Terpelajar) dan agama kaum petani (Nong Jiao), yaitu agama /
kepercayaan rakyat menyembah dewa-dewa tertentu.
Setelah Nabi Kongzi (Khong Cu) lahir agama Ru (Agama Kaum Terpelajar)
ini di ajarkan kepada rakyat agar rakyat Tiongkok memiliki sistem dan
cara peribadatan yang benar. Nabi Kongzi juga mulai mengajarkan kepada
rakyat agar percaya kepada Huang Tian, Tuhan Yang Maha Esa yang
menguasai dan mengatur jagad raya. Ajaran menyembah Tuhan YME ini sudah
diajarkan oleh para raja suci purba (Raja Yao (2357 – 2255 SM), Raja
Shun (2255 – 2205 SM)), tetapi belum diajarkan secara sistematis kepada
rakyat.
Nabi Kongzi (Khong Hu Cu) menata struktur kelenteng dengan menambah altar
Tian Gong ( Thi Kong / Tuhan ) untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa
sebagai altar utama. Karena Sebelumnya di kelenteng tidak ada altar
Tuhan atau Tian Gong. Kelenteng itu semula tempat pemujaan para leluhur
yang berjasa kepada masyarakat, roh itu dihormati orang seluruh kota
maka dibuatkan kelenteng (miao). Kemudian orang ke kelenteng
menyembahyangi berbagai roh-roh yang dianggapnya dapat memperbaiki nasib
mereka. Makna bersembahyang itu telah bergeser, dan Nabi Kongzi ingin
meluruskan kembali.
Nabi Kongzi (Khong Hu Cu) mengajarkan bahwa bersembahyang di kelenteng
itu untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati roh orang
yang pernah berjasa besar. Roh-bercahaya atau Sinbing yang
disembahyangi di kelenteng adalah roh manusia yang pada waktu hidupnya
telah berjasa besar kepada negara dan bangsa. Perbuatan mulia yang
pernah dilakukan pada saat masih hidup itu perlu dicontoh. Misalnya
Sinbing Kuan Kong, pada saat hidupnya terkenal sebagai orang yang jujur,
setia, pembela kebenaran, dan mempelajari buku Chun Qiu karya Nabi
Kongzi.
Tulisan Tiongkok dari zaman purba. Huruf Tian (Tuhan), terdiri dari
huruf yi (satu) dan da (besar), Artinya 1 yang besar/terbesar.
Maka dapat disimpulkan bahwa sejak jaman dahulu kala (purba)Tiongkok
sudah mengakui adanya Tuhan Sebagai Yang Maha Esa, Yang Maha Besar. Dan sekaligus kita ketahui bahwa itulah sebabnya bahwa agama Konghucu dinyatakan sebagai agama resmi pada negara yang memiliki sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini serta tidak menyembah dewa-dewi seperti yang selama ini kita kenal.
Lalu, bagaimana dengan sifat-sifat Tuhan atau Tian dalam agama Konghucu tersebut ? Maka dari situs itu terdapat bagian lanjutan dari penjelasannya. Karena penjelasannya dicampur, maka sumber akan diletakkan disini:
Setiap hari kita tidak akan pernah lepas dari kekuasaan Tuhan. Leluhur bangsa Tiongkok sudah menyadari akan hal itu. Untuk perumpamaannya karena langit itu terbesar dan tanpa batas maka Tian dapat diibaratkan berada dilangit.
Didalam Agama Ru (Agama Khong Hu Cu) lebih dijelaskan lagi sebagai berikut:
Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa) /Tian
Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan,
namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak,
didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.
Pada kata-kata tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan
adalah maksudnya Tuhan tidak boleh dibatasi oleh wujud-wujud fisik dan
penjelasan-penjelasan yang bersifat mematerikan Tuhan.
Sehingga jelas bahwa Ketuhanan dalam agama Konghucu tidaklah bersifat keduniawian seperti itu. Justru sebaliknya, Ketuhanan dalam agama Konghucu bersifat impersonal yakni tidak mewakili sebuah
tindakan, kejadian, keadaan, dari seseorang, tempat, atau subyek yang tidak ditetapkan.
Sehingga jelas bahwa puisi itu hanya gubahan seni oleh seorang seniman saja dan bukan kidung resmi Konghucu karena tidak pernah disebutkan nama Wei De Dong Tian dalam satupun Puisi Klasik di Tiongkok:
Menyadarkan seorang non-Buddhist bahwa umat Buddha tidak menyembah berhala menuai suatu hambatan. Beberapa hambatan tersebut merupakan suatu pertanyaan yakni jikalau mereka bukan penyembah berhala, apa tujuan penyajian berbagai makanan manusia untuk dipersembahkan pada roh-roh ? Apa juga tujuan berdoa menggunakan hio dan di depan patung ?
Untuk itulah dalam artikel ini akan mempertegas mengenai topik-topik sejenis sebelumnya mengingat masih terdapat yang mencela dengan berbagai alasan seperti yang dikatakan diatas.
Disitu beliau menyatakan bahwa apa yang dianggap pemujaan leluhur dan persembahan kepada kaisar oleh orang-orang Tionghoa sesungguhnya adalah sekadar penghormatan belaka dan bukan penyembahan berhala. Sikap hormat ini didasarkan pada nilai-nilai khas dunia Timur yang diajarkan oleh Kong Hu Cu. Oleh karena itu, praktik tersebut pada dasarnya tidaklah bertentangan dengan iman Kristiani, sehingga orang-orang Tionghoa yang menjadi Katolik tidak perlu dilarang mempraktikkannya: http://id.wikipedia.org/wiki/Pertikaian_ritus
Walaupun pada akhirnya ditentang oleh ordo Katolik lainnya namun pada akhirnya mereka mengerti dan kemudian mendukung jalannya misi tersebut. Dari situ pihak yang menentang berhala sendiri mengakui bahwa hal tersebut bukanlah penyembahan berhala dan hanya sebagai penghormatan saja.
Lagipula pada dasarnya yang dimaksud dengan berhala selama ini adalah obyek berbentuk makhluk hidup atau benda yang didewakan, disembah, dipuja dan dibuat oleh tangan manusia: http://id.wikipedia.org/wiki/Berhala
Sementara sembahyang cara dunia Timur itu sendiri sama sekali tidak mendewakan sosok tersebut dan tidak disejajarkan dengan Tuhan atau Yang Maha Kuasa yang selama ini dipahami oleh agama-agama monotheis. Bahkan mereka pun juga mengakui Ketuhanan yang ada pada agama-agama monotheis tersebut seperti yang pernah diulas pada 2 artikel ini:
Pada tanggal 11 Juli 2012 yang lalu, telah terjadi pernikahan Lesbian di Wihara Taiwan. Pertanda missi hak LGBT telah menyerang negara Asia sekaligus agama yang berasal dari Asia yakni agama Buddha. Lalu bagaimana tanggapan ajaran Buddha terhadap kejadian tersebut ?
Umumnya agama Buddha memandang homoseksualitas merupakan halangan untuk
mencapai kesucian batin pada kehidupan saat itu juga karena mereka yang
homoseksual tidak dapat mengembangkan pandangan terang (vipassana)
akibat kekotoran batinnya yang selalu "bergejolak" dari waktu ke waktu.
Namun demikian, mereka masih dapat menanam benih kebajikan (kusala
kamma) dengan mengembangkan sila dan berdana. Kelahiran sebagai
homoseksual merupakan akibat dari perbuatan buruk di masa lampau, di
antaranya mengkebiri orang lain, merendahkan pertapa yang menjalankan
sila, melanggar sila karena nafsu seksual, dan mengajak orang lain untuk
melakukan pelanggaran sila akibat nafsu seksual.
Vinaya melarang
penahbisan seorang homoseksual (pandaka) dan mengharuskan pelepasan
jubah bagi anggota Sangha yang terbukti homoseksual karena dapat
mengganggu kehidupan suci komunitas Sangha. Selain itu, dalam Vinaya
seorang bhikkhu yang memasukkan (maaf) alat kelaminnya ke dalam salah
satu lubang tubuh makhluk apa pun (termasuk sesama pria atau seorang
pandaka) akan dikeluarkan dari Sangha.
Cakkhavatti-sihanada Sutta
(Digha Nikaya 26) menyebutkan praktek menyimpang (miccha-dhamma)
menyebabkan generasi manusia yang dulunya memiliki usia rata-rata 500
tahun berkurang usianya menjadi 250 tahun pada generasi berikutnya.
Menurut komentar, miccha-dhamma yang dimaksud adalah hubungan seksual
antara laki-laki dengan laki-laki dan antara perempuan dengan perempuan.
Dengan demikian, homoseksualitas dianggap sebagai salah satu faktor
yang menyebabkan penurunan moral manusia.
Pelanggaran sila ke-3
(melakukan perbuatan asusila) bagi umat awam dikatakan sebagai "kehendak
yang dilakukan melalui tubuh dengan cara yang tidak bermoral untuk
melakukan hubungan seksual dengan orang-orang yang tidak seharusnya
disetubuhi". Bagi pria, orang-orang yang tidak seharusnya disetubuhi
dijelaskan sebagai 20 jenis wanita yang tidak boleh disetubuhi
(diantaranya wanita yang masih dalam perlindungan orang tua atau
kerabatnya, wanita yang merupakan kerabat dekat yang dilarang dalam adat
masyarakat, wanita yang menjalani hidup selibat/bhikkhuni, wanita yang
sudah terikat janji pernikahan atau pertunangan dengan pria lain
walaupun bersifat sementara, dst). Namun Buddhaghosa dan beberapa
komentator teks Buddhis lainnya menambahkan pria ke dalam kategori
"orang yang tidak seharusnya disetubuhi" ini.
Sedangkan untuk
hubungan sesama wanita, kitab-kitab Buddhis India tidak banyak
membicarakannya selain larangan bagi bhikkhuni untuk melakukan hubungan
sesama jenis. Hal ini disebabkan karena hubungan heteroseksual (lawan
jenis) lebih populer menjadi pusat perhatian pada masa Sang Buddha dan
sangat sedikit kasus homoseksual yang dijumpai pada masa itu (walaupun
bukan berarti tidak ada).
Sesungguhnya, apa pun orientasi
seksualnya, rasa kecintaan yang ditimbulkan dari nafsu untuk memuaskan
kenikmatan seksual tetaplah merupakan rintangan bagi perkembangan
batin/spiritual. Seperti yang disebutkan dalam Dhammapada XVII:213-215
berikut:
"Dari kenikmatan lahirlah kesedihan, dari kenikmatan
lahir rasa takut; barang siapa yang bebas dari kenikmatan akan tidak
merasakan kesedihan maupun ketakutan."
"Dari cinta lahirlah
kesedihan, dari cinta lahirlah rasa takut, seseorang yang bebas dari
rasa cinta tidak mengenal kesedihan maupun ketakutan."
"Dari
nafsu timbul kesedihan, dari nafsu timbul rasa takut, barang siapa bebas
dari nafsu maka ia tidak akan merasakan rasa padih maupun rasa takut."
Lalu, bagaimana bisa pernikahan tersebut dapat dengan mudahnya dilakukan oleh umat Buddha itu sendiri dan dilangsungkan pada tempat ibadah agama Buddha tersebut ? Beberapa penjelasan pada artikel berikut ini telah menjawabnya.
Dalam agama Buddha, terdapat larangan dalam melakukan pembunuhan termasuk diantaranya adalah membunuh hewan. Akan tetapi seperti yang kita ketahui bahwa setiap hari seorang manusia mandi untuk membunuh kuman di seluruh tubuh. Begitupun saat mencuci muka, mencuci kaki, mencuci bahan makanan, memasak masakan, serta perjuang sembuh dari penyakit dengan melawan kuman-kuman penyakit yang mengerikan.
Hal ini telah dijawab dengan 3 landasan pada ajaran Buddha.
Yang pertama adalah semua makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata, tidak perlu dipersoalkan seperti yang dikatakan oleh biksu Thailand yang terkenal.
Yang kedua adalah sesuatu dapat dikatakan sebagai pembunuhan jika memenuhi 5 syarat yakni:
- ada makhluk hidup
- tau bahwa makhluk itu hidup
- ada niat untuk memusnahkan makhluk itu
- ada usaha untuk mewujudkannya
- makhluk itu mati sebagai akibat dari tindakan kita
Jika syaratnya kurang 1, maka itu tidak bisa dikatakan sebagai pembunuhan.
Yang ketiga adalah syarat dari makhluk hidup khususnya manusia harus terdiri dari 2 bagian utama yakni faktor Jasmani dan faktor Batin. Sementara kuman sendiri hanya memiliki faktor Rupa (tubuh jasmani) namun tidak memiliki faktor Batin.
Maka dari itu agar terbebas dari kuman selain dengan mandi, mencuci tangan dan kaki, mencuci bahan makanan, memasak makanan, serta melakukan pengobatan; hiduplah yang bersih dan jangan
jorok agar tidak memberi kesempatan kuman untuk berkembang dan terbebas dari penyakit.
Terdapat beberapa orang yang memiliki kesamaan satu sama lain seperti halnya kedua presiden Amerika Serikat yakni Abraham Lincoln dengan John F. Kennedy. Demikian pula dengan kedua ditaktor dunia yakni Adolf Hitler dan Joseph Stalin. Namun bagaimana dengan kedua golongan keagamaan memiliki kesamaan dan persamaan tersebut tidak dimiliki oleh agama manapun selain dua agama tersebut. Itulah yang saat ini dialami oleh agama Katolik dan agama Buddha. Berikut adalah daftar kesamaannya:
1. Hanya keduanya yang ada diantara dua agama bangsa di lingkupnya.
Katolik: Yahudi (Israel) & Islam (Arab)
Buddha: Hindu (India) & Konghucu (China)
2. Hanya keduanya yang terdapat ajaran dari hasil menggenapi/menyempurnakan/merubah ajaran agama yang sebelumnya ada.
Katolik: menggenapkan agama Yahudi
Buddha: merubah sistem ajaran Hindu
3. Hanya pendiri agama keduanya yang sama-sama dihujat mengenai penggambaran rambutnya.
4. Hanya keduanya yang memiliki pemimpin tertinggi pada agamanya.
Katolik: Bapa Paus
Buddha: Dalai Lama
5. Hanya keduanya yang memiliki negara pusat keagamaan dan negara tersebut melewati berbagai masa, wilayahnya kecil, dan bergabung dengan negara besar didekatnya.
Katolik: Vatikan (Italia)
Buddha: Tibet (China)
6. Hanya keduanya yang merupakan agama imigran, yakni punah di tempat aslinya dan pindah ke tempat lain.
Katolik: Israel → Roma
Buddha: India → China
7. Hanya keduanya yang mengharuskan para pemuka agamanya untuk tidak menikah dan hidup membiara serta sama-sama dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan.
Katolik: Pastor & Suster
Buddha: Biksu & Biksuni
8. Keduanya mengajarkan ajaran kasih.
Katolik: Cinta Kasih
Buddha: Welas Kasih
9. Keduanya awalnya tidak menyatakan sebagai agama namun hanya sebuah ajaran rohani saja (sebutan agama yang selama ini ada hanyalah sebagai sandangan saja)
Katolik: Yesus tak pernah menyatakan ajaranNya sebagai agama dan hanya sebagai kerohanian.
Buddha: George Grimm, “The Doctrine of the Buddha”
10. Hanya keduanya yang memiliki sapaan akhir dengan pesan tujuan positif bagi yang menerimanya.
Katolik: Tuhan Yesus Memberkati
Buddha: Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Terdapat banyak fakta menarik mengenai alasan kebanyakan orang yang pindah ke agama Buddha. Salah satunya adalah masih ingatkah Anda dengan pemberitaan mengenai bayi dilahirkan
cacat yang sempat menyeruak beberapa waktu yang lalu di negeri ini.
Konon
banyak orang bertanya: kalau Tuhan itu adil, mengapa ada orang yang
dilahirkan cacat atau penyakit bawaan yang sangat parah (ada bayi yang hanya
hidup beberapa bulan saja). Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah cobaan
dari Tuhan, namun sama sekali tidak "mengena". Karena belum mengerti soal Tuhan tapi langsung
dicobai.
Akibatnya, persentasenya penganut agama Buddha di Indonesia antara tahun 2005 sampai 2010 bertambah dari 0,61% menjadi 0,72% atau dari 1,3 juta orang menjadi 1,7 juta orang (rujukan Wikipedia)
Pada artikel sebelumnya mengenai Video Menghina Tuhan, jika diteliti secara seksama terdengar celetukan teman si penyanyi ketika sesi penghinaan agama Buddha yang kira-kira seperti ini (mohon maaf jika perkataan kurang mengenakan) "Udah kepalanya botak, banyak titiknya dikepala, kayak kartu gaplek (kartu remi)". Atau mungkin jika sering melihat film Shaolin atau Dragon Ball, sering pula terlihat hal demikian. Untuk itu maka topik mengenai ini disendirikan pada artikel ini.
Menurut tulisan Bhiksu ShengYen dari Dharma Drum/FaGuShan, beliau mengatakan cara ini sebenarnya bukan berdasarkan ajaran dari sang Buddha. Maksud beliau adalah jangan sampai kita menganggap ini merupakan ciri dari Buddhisme.
Namun
tanda itu memiliki makna tersendiri, karena tanda ini dilakukan dengan
cara menggunakan dupa yang menyala lalu ditindik ke atas kepala sang
bhiksu, ini merupakan sebuah cara yang identik dengan membakar jari.
Dalam salah satu kitab suci mahayana tertulis bahwa salah satu bentuk
persembahan kepada sang buddha adalah membakar jari. Walaupun cara ini
tampak ekstrim, namun memang ada yang melakukannya sebagai tanda
ketulusan atas aspirasi mencapai pencerahan. Kita harus melakukannya
dengan motivasi yang benar. Sama seperti metode Dutanga (praktek keras)
yang dilakukan Mahakasyapa. Tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Tidak semua orang boleh menjalaninya. Sang Buddha bisa aja menyetujui
anda menjalaninya tapi belum tentu menyetujui kepada orang lain.
Demikianlah ajaran Buddha, sangat bergantung pada sikap batin para
siswanya saat mendidik mereka.
Seiring dengan perkembangan jaman, hal itu menjadi
kebiasaan Buddhist Tiongkok dan timbul pula segala macam alasan untuk
mengartikannya. Tapi ada Bhiksu yang saya hormati mengambil hal itu
sebagai bentuk pengabdian.
Menurut sumber lain, tujuan dibuat tanda ini:
Melatih ketabahan jiwa
Berjanji sesuatu kepada sang Budha
Membersihkan karma-karma buruk di kehidupan sebelumnya
Menindik kepala dengan dupa oleh
bhiksu di Cina, bukan sebuah kewajiban, sampai pada masa sekarang, sudah
semakin berkurang bhiksu Cina melakukannya. Justru katanya asal mula
praktek seperti itu adalah masa masa Buddhisme sedang merosot di Cina.
Titik itu awalnya dibuat oleh pemerintah di Tiongkok
dinasti Yuan (Mongol) untuk memisahkan yang asli dan yang palsu mengingat banyak biksu palsu yang berkeliaran seperti halnya bhante yang tidak memiliki alis karena dulu banyak bhante palsu di Thailand. Ada
pula yang bilang hal itu untuk mendiskirminasikan Bhiksu Mongol dan
Bhiksu Han. Di India sendiri, hal itu tidak pernah dipraktekkan.
Klaim yang ini tergolong jarang didengar tapi sangat populer di kalangan
kaum terpelajar terutama di bidang debat lintas-agama. Kenyataan memang
menunjukkan bahwa ajaran sang Buddha seakan-akan alpha akan konsep
Tuhan, dan terus menekankan bahwa pencerahan adalah usaha dari manusia
sendiri untuk membebaskan dirinya lewat praktek pengembangan pikiran dan
moralitas.
Dalam buku Buddhism for Dummies, ditulis bahwa orang-orang melihat bahwa
kata Tuhan (karena kata ini yang paling umum dipakai) sama sekali absen
dalam ajaran agama Buddha sehingga mereka dengan setengah bercanda
menjulukinya sebagai agama yang bagus buat kaum atheis.
Pengertian atheis secara umum adalah tidak percaya Tuhan. Dalam agama wahyu/langit/samawi, Tuhan digambarkan "personal (bisa kita
bayangkan seperti kita)". Jadi Tuhan digambarkan bisa menyayangi kita,
bisa menghukum, bisa marah, bisa jadi tempat kita memohon, bisa mencobai
kita, dll. Tuhan seperti ini yang tidak diyakini/dipercaya oleh umat
Buddha.
Bagi umat Buddha, Tuhan
bukan sesuatu yg bisa kita jangkau dengan pikiran/intelektual, tapi bisa
kita rasakan kehadirannya.Tuhan bukan sosok yang bisa kita suruh, perlu
kita puji untuk mengambil hatinya, dan bisa kita salahkan atas apa yg
terjadi dengan kita.
Ada satu pengertian lagi tentang Tuhan. Tuhan bukan sosok yang personal.
Tuhan tidak dapat dibayangkan, tapi hanya bisa dirasakan sifatnya. Maha
Adil, Maha Pengasih, Maha Pengampun, dll adalah beberapa sifat Tuhan
yang bisa kita rasakan. Sifat Tuhan ini dalam agama Buddha dipahami
sebagai hukum alam yg berjalan dengan adil. Ada 4 penggolongan hukum
alam yang dikenal umat Buddha. Salah satunya yang paling dikenal adalah Hukum
Karma (kamma niyama). Jadi dalam agama Buddha semua yang kita dapat karena
dari hasil perbuatan kita sendiri dan berjalan sesuai dengan hukum
alam.
sebagai gantinya sebagai tujuan umat Buddhist, ada digambarkan dalam kalimat berikut:
Wahai para bhikkhu, ada yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk.
Wahai
para bhikkhu, seandainya saja tidak ada yang tidak dilahirkan, tidak
dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk, maka tidak ada jalan
keluar yang dapat dilihat dari apa yang dilahirkan, dijelmakan,
diciptakan, dan dibentuk.
Tetapi karena ada sesuatu yang tidak
dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, dan tidak dibentuk, maka
dapat dilihat suatu jalan keluar dari apa yang dilahirkan, dijelmakan,
diciptakan, dan dibentuk.
Yang dilahirkan, dijelmakan, dihasilkan
Yang diciptakan, dibentuk, yang tidak kekal
Yang bersatu dengan kelapukan dan kematian
Sarang bagi penyakit, dapat hancur
Yang muncul dari makanan dan tali nafsu- itu tidak sesuai untuk dijadikan kegembiraan
Jalan keluar dari itu, yang damai
Berada di luar penalaran, kekal,
Yang tidak dilahirkan, tidak dihasilkan
Keadaan tanpa duka yang bebas dari noda
Berhentinya segala keadaan yang menyengsarakan, berhentinya segala yang berkondisi-Sukacita
(Ittivuttakka 2:43)
Bait inilah pondasi konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha.
Di Indonesia, umat Buddha sering memakai istilah Sang Hyang Adi
Buddha untuk pengganti kata Tuhan. Dan tidak semua umat Buddha memahami
dan bisa menjelaskan Tuhan dalam agama Buddha.
Kata Sang Hyang Adi Buddha bukan hasil dikarang-karang, tapi memang
diambil dari tradisi agama Buddha di Indonesia. Ini mungkin akan
membingungkan bagi umat beragama lain dan sebagian umat Buddha, karena
agama Buddha bisa berbeda beda bentuk luarnya. Tapi inti ajaran tetap
sama. Agama Buddha seperti obat manjur, yang tidak dipatenkan. Jadi orang
bisa kasih merek apa saja. Asal obatnya asli, mau merek apa saja, tetap
saja sembuh.
Jika umat Buddha mengakui keberadaan Tuhan, mengapa mereka tidak lebih sering menyebutkannya?
Pokok
Sentral ajaran agama Buddha adalah mengenai apa itu penderitaan,
sebab-sebab penderitaan, dan bagaimana cara mengakhiri penderitaan.
Konsep mengenai Tuhan, tidak memiliki signifikansi penting karena yang
ditekankan adalah usaha manusia dalam mengakhiri penderitaan itu, bukan
melalui upaya penyelamatan oleh kuasa supernatural atau mukjizat. Dalam
hal ini Buddhisme juga bukanlah sekedar seperangkat sistem kepercayaan,
doktrin, atau ritual, karena Buddhisme menuntut sikap skeptis terhadap
ajaran apapun yang disodorkan, sekalipun itu berasal dari Buddha
sendiri.
Sang Buddha sendiri berkata: "Jangan menerima
segala hal yang saya ucapkan sebagai kebenaran hanya karena saya telah
mengucapkannya. Tetapi, selidiki dan buktikanlah itu seperti kamu
mengetes apakah sebuah bongkahan emas itu murni atau tidak. Jika,
setelah menyelidiki ajaran-ajaranku, kamu menemukan bahwa mereka benar,
praktekkan mereka. Tetapi jangan melakukannya hanya karena kamu ingin
menghormati saya".
Terdapat sebuah video menghina Tuhan yang diupload oleh RQN666.
Dalam video tersebut terdapat penghinaan terhadap agama Kristen, Buddha, dan Hindu.
Mari kita simak jawaban dari persoalan penghinaan melalui video tersebut.
Menjawab penghinaan terhadap agama Kristen.
Dalam video tersebut terdapat penghinaan terhadap agama Kristen dimana diceritakan bahwa Yesus (yang disebut Tuhan dalam video tersebut) tidak memakai baju, hanya memakai celana dalam, dan disalib
Hal ini dikarenakan sebelum disalib, pakaian Yesus dilepas oleh para prajurit Romawi yang menyalibkannya seperti yang tertulis pada ayat ini:
Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. (Matius 27:28)
sementara Yesus disalib adalah karena bentuk pemberian siksaan dari Pontius Pilatus seperti yang tertulis pada ayat ini:
Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. (Yohanes 19:16)
Menjawab penghinaan terhadap agama Buddha.
Dalam video tersebut juga terdapat penghinaan terhadap agama Buddha dimana diceritakan bahwa Sang Buddha (yang disebut Tuhan dalam video tersebut) kepalanya botak dan telinganya melar
Sementara Sang Buddha mempunyai telinga yang panjang karena berdasarkan bahasa simbol, ini menandakan kebijaksanaan, dan diihat dari
budaya konon telinga panjang adalah akibat dari penggunaan
anting-anting, dimana kita tahu bahwa sebelum menjadi Buddha, Siddhattha
adalah seorang pangeran, dan ia menggunakan anting sebagai perhiasan.
Karena beratnya (entah seberapa beratnya anting jaman dulu) maka telinganya (tepatnya lubang antingnya) memanjang. Salah satu
suku di Indonesia juga menerapkan tradisi anting seperti ini, semakin
panjang telinga katanya semakin cantik/ganteng dan juga menandakan
kekayaan seseorang. (sumber: http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,8901.msg156146.html#msg156146)
Dalam video tersebut juga terdapat penghinaan terhadap agama Hindu dimana diceritakan bahwa Tuhan dianggap sapi.
Kesalahan besar ada pada bagian ini karena Hindu tidak menggambarkan Tuhan dalam wujud sapi.
Memang benar jika sapi adalah hewan yang disakralkan oleh umat Hindu. Namun terdapat perbedaan istilah antara "menghormati" dan "memuja". Ajaran agama Hindu memang memperlakukan sapi secara istimewa untuk menghormati sapi, tetapi bukan untuk memujanya. (sumber: http://duniasapi.com/id/edutainment/116-sapi-binatang-suci.html)
Lalu, Siapakah pelaku dibalik pembuatan video ini ?
Kita tentunya tidak akan mengetahuinya secara pasti. Akan tetapi jika mendengarkan logat dari si penyanyi pada video tersebut terdengar seperti logat orang Sunda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa si penyanyi dalam video tersebut berasal dari Jawa Barat (meskipun orang Sunda sekarang tidak semuanya tinggal di Jawa Barat) Selain itu terdengar pula suara orang lebih dari 1 dalam video tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaku dalam video tersebut tidak hanya 1 orang saja.
Selain itu, ditemukan pula video dengan lagu yang sama hanya saja yang ditampilkan adalah seseorang yang sedang lip sing memakai lagu tersebut yang diupload oleh menozht86.
Namun orang dalam video tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pelaku yang menyanyikan video tersebut. Hal ini dikarenakan video tersebut bukan video asli dari lagu tersebut. Video asli dari lagu tersebut adalah yang saya tampilkan paling atas yang diupload pada tanggal 26 Maret 2011 dan sementara video ini diupload sesudah video asli tersebut ada tepatnya pada tanggal 25 Juni 2011. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang pada video tersebut hanya menumpang lip sing saja. Lagipula pada video tersebut ia hanya bernyanyi sendiri padahal lagunya memiliki warna suara orang lebih dari 1.
Tetapi, ada sebuah temuan mengejutkan dari seorang netter di sebuah forum bernama Faithfreedom bernama Kenalilah Penciptamu. Perlu diketahui bahwa ia merupakan orang yang sama dengan orang yang pernah mengejek Dewi Kwan Im yang telah diulas beberapa waktu yang lalu.
Lagunya sama cuy. Lagu aslinya yg bikin ntuh temen2ku anak *** Jabar, aku sndri cuma bantu dikit2 di ide liriknya.
Dari pengakuannya tersebut, ciri-ciri pelaku yang ia berikan sangat sesuai dengan ciri-ciri suara pada video yang diupload di Youtube tersebut yakni orang Jawa Barat dan lebih dari 1.
Akan tetapi, siapapun itu pelakunya semoga Tuhan menunjukan jalan yang benar bagi si pelaku pembuat video tersebut.
Catatan: Video paling diatas tersebut memang sudah tak dapat lagi menampilkan video tersebut dikarenakan telah dihapus. Namun, seseorang bernama imronieful telah menguploadnya kembali sehingga Anda dapat melihat video tersebut pada tayangan video yang satu ini.
Pusat Penelitian Buddhisme di Israel
The
Buddhist Channel, sebuah website Buddhis berbahasa Inggris, akhir
September 2006 lalu memberitakan sebuah kabar gembira tentang lahirnya
sebuah pusat penelitian Budhisme di Israel.
Israel Center for the
Study of Buddhism (ICSB) adalah sebuah institusi nir-laba yang bergerak
dalam penelitian antar disiplin ilmu dan budaya dengan tujuan “membawa
Timur Jauh ke Timur Tengah”. Misi utamanya adalah mengenalkan prinsip
dan sejarah Buddhisme secara menyeluruh agar masyarakat Israel memiliki
pemahaman yang lebih mendalam tentang budaya Timur Jauh. Dari Maroko
hingga Afganistan dan dari Turki hingga Yaman, ICSB adalah satu-satunya
institusi di Timur Tengah yang mempelajari Buddhisme beserta latar
belakang budayanya (meliputi wilayah India, Asia Tenggara, dan
Tiongkok).
Komunikasi bahasa dan literatur adalah kunci terbaik
untuk membuka hubungan mutualis antar budaya. Oleh sebab itu, proyek
pertama ICSB adalah menerjemahkan Tripitaka (bahasa Pali, Sansekerta,
Tionghoa, dan Tibet) ke dalam bahasa Hebrew (Yahudi). Kemudian
selanjutnya adalah proyek penerjemahan literatur Yahudi (seperti Mishnah
dan Talmud) ke dalam beberapa bahasa di atas agar masyarakat di Asia
Jauh dapat pula memahami budaya Yahudi.
Selain itu, penelitian
juga meliputi aspek pertukaran antar sejarah bangsa, kesenian, dan
arkeologi, yang pada nantinya akan melibatkan para ilmuwan dan agamawan
untuk saling berbagi pandangan, baik dari sudut pandang modern ataupun
tradisional.
Misi mulia yang diemban oleh ICSB memang sangat
berat dan tidak mudah, namun Shmuel Ben Or, pendiri dan pengelola ICSB,
memiliki keyakinan yang teguh dalam mewujudkan cita-cita luhur ini
dengan berpegang pada filosofi “perjalanan paling panjang pun selalu
diawali dengan langkah yang paling pendek”.
Bagi mereka yang berminat mengetahui misi dan tujuan ICSB, dapat menjenguknya di www.israel-center.org.
Bhiksuni Mengajar Meditasi di Israel
Menurut
berita yang dirilis oleh Jerusalem Post, disebutkan bahwa Dharma
Friends of Israel, sebuah jaringan perorangan di Israel yang mempelajari
dan mempraktikkan ajaran Buddha dan meditasi, secara rutin mengundang
guru agama Buddha ke negara tersebut. Bhiksuni Tenzin, asal London,
adalah guru pertama yang datang pada akhir September tahun lalu untuk
mengajar dan memimpin retret selama tiga minggu di berbagai tempat,
salah satunya yang paling sering adalah di Kibbutz Tuval di bagian utara
Israel. Kegiatan retret itu berfokus pada program meditasi yang
menuntun langsung pada penghayatan kesadaran pikiran.
Tenzin
dibesarkan di daerah pemukiman Yahudi di London. Perjalanannya menjadi
bhiksuni dimulai ketika usia remaja. Ia mengatakan, semenjak masih kecil
selalu menginginkan sesuatu yang lebih, untuk itu ia mencoba membaca
Kitab Suci non Buddhis, namun tidak menemukan apa yang dicarinya.
Untuk
memuaskan keinginan spiritualnya, ia pergi ke India pada tahun 1964
ketika berusia 20 tahun. Ia belajar dari Khamtrul Rinpoche ke-8, dan
akhirnya menjadi bhiksuni tradisi Buddhisme Tibet. Tenzin tinggal di
sana selama 6 tahun. Ia kemudian diinstruksikan untuk menjalani latihan
yang lebih intensif. Akhirnya ia menemukan ketenangan dan kedamaian yang
dicarinya selama ini di sebuah goa. Ia menetap selama 12 tahun, yang
mana tiga tahun terakhir dijalaninya dengan pelatihan yang ketat.
Sekarang
ia mengabdikan diri di sebuah institusi bhiksuni yang didirikannya pada
tahun 1999. Institusi ini berfokus pada pengembangan spiritual kaum
wanita dengan memberikan pengajaran tentang filsafat, ritual, Bahasa
Inggris dan disiplin ilmu praktis lainnya.
Selama di Israel ia
menghilangkan keraguan peserta retret yang beragama Yahudi dengan
memberikan penjelasan, “Seseorang bisa menjadi umat Yahudi yang sempurna
dan belajar meditasi serta menenangkan pikiran.”
Tenzin
menekankan untuk berfokus pada kekuatan dan pentingnya meditasi.
“Biasanya kita tidak sadar bahwa pikiran kita selalu bergerak,” demikian
ujarnya. “Meditasi adalah proses dua langkah: pertama anda harus
menenangkan pikiran, setelah itu amati pikiran kita itu.”
NB:
Meditasi dan ajaran luhur Buddha selangkah demi selangkah menyebar ke
seluruh pelosok dunia. Sebuah langkah mulia yang akan membawa setiap
umat manusia menemukan jati diri hingga pada akhirnya mengantar pada
pemurnian diri dan perdamaian dunia. Masihkah kita ragu akan ajaran yang
demikian indah, bermanfaat, dan tanpa paksaan ini?
Dan inilah pandangan Buddhisme terhadap 2 kasus penodaan agama tersebut.
Untuk mengetahui kebenarannya, kita harus membuktikannya sendiri.
APA BILA INI SALAH:
Manusia
itu diliputi 3 akar kejahatan, lobha (keserakahan), moha (kebodohan),
dan dosa (kebencian). Apakah penulis artikel ingin melecehkan agama lain
? Apakah penulis artikel ingin mendapat pandangan rakyat/cari perhatian
dengan kebohongan ? Apakah penulis artikel menulis ini tanpa bukti yang
nyata?
Entah dari mana yang menjadi asal dari kebohongan ini.
APA BILA INI BENAR:
Harus
jujur bahwa sebenarnya kurang lebih seratus tahun setelah sang Buddha
parinibbana/meninggalkan dunia, muncul bhikkhu gadungan yang menjadi
bhikkhu hanya agar dapat mudah mendapatkan makanan, dll. dan akhirnya
pada persamuan agung, para bhikkhu gadungan pun telah di bersihkan.
Bagaimana kita dapat menyamakan dengan 2500 tahun yang lalu?
setiap waktu berjalan, moral manusia semakin susah untuk menjadi lebih baik.
kriminalitas terjadi di seluruh penjuru dunia. moral semakin menurun.
jadi entah ini benar maupun salah, namanya manusia, tidak ada yang sempurna sampai menemukan penerangan sempurna.
Semua orang sama sebenarnya, yang membedakan hanyalah baik dan jahat.
ras, agama, umur, bangsa, semua tidak membedakan. yang penting kita harus tetap ikut pada jalan yang baik.
UPDATE 15 May
Disini perlu dijelaskan, bahwa Bikkhu, adalah orang yang menjalankan
ajaran Buddha Gautama yang ditulis dalam peraturan ke-Bikkhu-an di kitab
Tripitaka yang berjudul Vinaya Pitaka. Didalamnya terdapat 227 peraturan untuk Bikkhu dan tambahan 30an peraturan untuk Bikkhuni (Bikkhu wanita). Dan
sudah ditetapkan oleh Buddha, bahwa siapa saja yang melanggar 1 atau
lebih dari Vinaya, dia bukanlah Bikkhu lagi, melainkan orang awam,
kecuali jika dia bersedia menerima hukuman untuk pelanggaran nya.
Jadi
sudah jelas, dari luar anda melihat dia sebagai Bikkhu, tetapi begitu
anda mengetahui bahwa dia melanggar Vinaya, anda sudah boleh
menyimpulkan bahwa dia adalah umat awam. Sederhana saja kok.
Aku sangat ingin percaya
bahwa setelah aku mati aku akan hidup lagi, bahwa pikiranku, perasaanku,
dan ingatanku akan terus berlanjut. Tapi meskipun aku sangat ingin
mempercayai itu, dan meskipun banyak cerita kuno dari seluruh dunia
mengatakan ada kehidupan setelah mati, aku hanya bisa berkata bahwa
semua itu tak lebih dari angan kosong belaka.
Wkwkwk…. Jadi masih ngga mau ngaku ya… Ya udah, ngga apa2 kok. Yang
terpenting buatku FFI telah terbukti salah dan Islam telah terbukti
benar. Sekedar nasihat nih untuk kalian para kafir, kalau kalian memang
ingin belajar Islam secara serius, pergilah ke orang yg punya
pengetahuan mumpuni ttg Islam; yaitu Ustadz dan para ulama agar kalian
tdk tersesat, seperti kasus ini. Kan lucu sekali kalian ini, inginnya
mengupas ttg hukum-hukum, ajaran-ajaran, dlsb ttg Islam namun sejarah
tentang Islam dan Nabi Muhammad kalian pun tdk tahu? Bukankah lucu
kalau kalian ingin belajar membuat roti tapi malah minta ajar sama
tukang sedot WC? Alih-alih jadi bikin roti, roti yg kalian buat malah
akan seperti barang yg disedot ama tukang WC itu sehari-hari.
Akhir
kata, sudahlah, jangan buang waktu kalian yg berharga di forum sampah
seperti ini hanya untuk menghujat agama lain, dalam hal ini Islam. Islam
itu agama satu-satunya yg diridhoi Allah, tdk ada sesuatupun yg salah
dlm Islam. Jikapun ada kesalahan, kesalahan satu-satunya itu ada pada
kita yg punya otak terbatas untuk memahaminya. Mending kita urus agama
masing-masing, toh agama kalian itu juga tdk luput dari banyaknya
kesalahan. Coba kalian introspeksi agama kalian sendiri, apakah benar
Yesus itu orang baik, lebih-lebih disebut Tuhan? Pohon ara yg tdk salah
apa-apapun dikutuk sama dia, orang yg minta tolong sama dia dikatain
anjing, apa itu benar??? Apakah masuk akal ajaran ttg tampar pipi kiri
serahkan pipi kanan itu? Kalau memang masuk akal, ayo, sini kalian semua
para kristener datang ke rumahku, biar saya tampar pipi kalian
satu-satu Kan lumayan kalian dapat pahala krn melaksanakan ajaran agama kalian.
Trus apakah benar Buddha itu agama yg benar? Dewi kalian yg bernama
Kwam-Im itu sebenarnya seorang pria bukan? Sangat memuakkan memang
bahwa ada sebuah agama yang mengajarkan homoseksualitas kpd umatnya dan
mengangkat seorang bencong untuk menjadi dewi mereka. Kalau saya nih
disuruh menyembah bencong spt kwam-im, saya sih lebih mending menyembah
Tata Dado saja, krn apa? Krn saya lebih suka yg hitam manis
Lalu, darimanakah ia mendapatkan gugatan tersebut ?
Dari hasil penelusuran kemungkinan gugatan tersebut berasal dari tulisan ini
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa Dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Kong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita.
Kepercayaan dari umat Buddha yang paling sering membedakannya dengan agama lain adalah Hukum Karma dan Tumimbal Lahir, Semua makhluk di dunia akan mengalami tumimbal lahir. Keadaan
kelahiran kembali mereka akan bergantung dengan karma yang telah mereka
hasilkan sendiri, apabila kita berbuat baik, maka kita akan mendapat
karma baik. apabila kita berbuat jahat, maka kita akan mendapat karma
buruk.
Semua saling berikatan antara perbuatan kita dengan karma.
Dewi
Kwan-Im, lebih sering dikenal dengan Avalokitesvara Bodhisatva adalah
Calon Buddha dengan cinta kasih yang luar biasa. Ia telah bertekad untuk
tidak mencapai Nibbana (Tingkat kesucian tertinggi) sampai Ia dapat
membebaskan semua makhluk dari neraka. Hal itu dapat dilakukan dengan
pelimpahan jasa. Dengan adanya Tumimbal lahir, tentu keadaan kelahiran
kita akan berbeda-beda. Bisa terlahir menjadi laki-laki, wanita, hewan,
dan semua jenis makhluk yang berada di 31 Alam Kehidupan. Ilustrasi atau
penggambaran Avalokitesvara Bodhisatva ini tentunya berbeda-beda,
karena kemampuan kerohaniawan manusia pada jaman kehidupan sang Buddha
itu berbeda dengan sekarang.
Yang mempengaruhi perbedaan penggambarannya itu menurut saya adalah waktu dan tradisi.
Mengapa seorang biksu harus dicukur habis rambutnya sampai gundul sementara Sang Buddha tetap berambut ?
pertanyaan ini telah dijawab secara gamblang oleh para penganut Buddha itu sendiri
Sang Buddha telah menjadi Buddha dan mencapai penerangan sempurna.
Tentu beliau lebih tahu bagaimana cara agar kita bisa lebih mudah agar bisa
mencapai penerangan sempurna seperti dirinya.
Biksu adalah orang yang berkomitmen untuk menjadi seperti Buddha (bukan
penampilan, tetapi dalam hal mencapai kesempurnaan). Seiring perkembangan jaman, para biksu Buddha diharuskan untuk memplontos kepalanya karena rambut adalah simbol keduniawian karena lebih ke arah aturan dan simbol. Biksu diharuskan
mencukur rambutnya karena menurut ajarannya hal itu adalah lebih baik dilakukan.
Efek dan pengaruhnya tentu akan berbeda untuk setiap orang tergantung dari
pemahaman masing-masing, tetapi jelas lebih baik.